Minggu, 12 September 2010
Prolog
Di sebuah taman dengan pohon-pohon yang rimbun dan rumput nan hijau. Beberapa anak masih menggunakan seragam SMA berkejar-kejaran. Tak lama kemudian mereka berhenti dan tidur di rumput membentuk bintang lima sisi.
Mereka adalah Taura, Leo, Pisca, Sagita dan Virgo. Mereka berlima terlihat sangat kelelahan setelah berlari. Mereka berlima telah bersahabat sejak SMP. 5 tahun sudah mereka melalui hari-hari bersama. 5 tahun sudah mereka memupuk persahabatan dengan rasa dan warna yang berbeda-beda seperti pelangi.
“Guys, anterin gue yuk!” pinta Taura. Dia berdiri dan memandang keempat sahabatnya.
Leo, Pisca, Sagita dan Virgo saling pandang. Leo mewakili teman-temannya untuk bertanya. “Memang mau kemana sih, Ra?” tanyanya sambil menyipitkan mata karena silau.
Taura tersenyum, “Mau ke makam Ayah. Gue kangen nih. Mau ya? Please…” Taura memohon. Tampangnya juga melas sekali.
Untuk kedua kalinya, keempat sahabat Taura saling pandang. Lalu, dengan menghela napas panjang mereka beranjak. “Asal lo jangan pingsan lagi ya! Kita panik tau waktu lo pingsan. Janji?!” kali ini Pisces yang berbicara. Yang lain mengangguk setuju dengan ucapan Pisces.
Taura tersenyum, lalu merangkul teman-temannya. “Tenang aja deh. Sekarang gue udah nggak selemah dulu. Gue janji nggak bakal pingsan lagi. Thank you my best friends!!”
Sampai di pemakaman ayah Taura, mereka berjongkok. Menatap batu nisan di makam itu. Nama ayah Taura terukir indah disana. Taura tersenyum tulus. Perlahan-lahan air matanya turun membasahi pipinya. Dengan perlahan, Taura menggumamkan nama ayahnya. “Ayah...”
Sagita dan Virgo yang berada disisi kanan-kiri Taura menepuk bahunya pelan, seolah menenangkan Taura yang sedang berduka. “Jangan nangis. Tuhan memanggil ayahmu waktu itu bukan untuk membuatmu menangis. Tapi untuk membuatmu lebih tegar. Membuat keluargamu lebih kuat.” ujar Virgo dengan bijak. Entah darimana ia mendapat kata-kata bijak itu.
Setelah beberapa lama, mereka pergi dari situ. Namun, sebelum beranjak, Taura sempat meletakkan sebuah kertas putih yang di dalamnya terdapat tulisan tangan dirinya sendiri. Mereka pergi tanpa memandang lagi ke belakang.
Ayah...
Aku tau semua yang ada di dunia ini pasti akan kembali pada-Nya
Aku tau itu, tapi kita takkan pernah tau kapan itu semua terjadi
Aku tak tau kapan teman-teman terdekatku meninggalkanku
Aku tak tau kapan ibu meninggalkanku
Aku tak tau kapan Satria juga akan meninggalkanku
Bahkan aku pun tak akan tau kapan nyawaku meninggalkan ragaku
Tapi ayah...kenapa Tuhan mengambilmu terlalu cepat
Aku sangat sedih...
Tapi, kini aku sudah kembali tegar
Aku tidak lagi lemah seperti dulu
Aku mempunyai banyak teman yang sangat menyayangiku
Teman yang sangat menerimaku apa adanya
Dan aku berharap... Tuhan takkan mengambil mereka lagi
Seperti saat mengambil ayah dariku...
NB: ayah, baik-baik ya. Aku akan menjaga ibu dan Satria dengan baik... Ayah tenang aja. Pokoknya, aku bakal berusaha sebaik-baiknya menjaga mereka. Ayah tenang-tenang aja di surga. Suatu saat, kita bakal bareng-bareng lagi, kok.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Minggu, 12 September 2010
Prolog
Di sebuah taman dengan pohon-pohon yang rimbun dan rumput nan hijau. Beberapa anak masih menggunakan seragam SMA berkejar-kejaran. Tak lama kemudian mereka berhenti dan tidur di rumput membentuk bintang lima sisi.
Mereka adalah Taura, Leo, Pisca, Sagita dan Virgo. Mereka berlima terlihat sangat kelelahan setelah berlari. Mereka berlima telah bersahabat sejak SMP. 5 tahun sudah mereka melalui hari-hari bersama. 5 tahun sudah mereka memupuk persahabatan dengan rasa dan warna yang berbeda-beda seperti pelangi.
“Guys, anterin gue yuk!” pinta Taura. Dia berdiri dan memandang keempat sahabatnya.
Leo, Pisca, Sagita dan Virgo saling pandang. Leo mewakili teman-temannya untuk bertanya. “Memang mau kemana sih, Ra?” tanyanya sambil menyipitkan mata karena silau.
Taura tersenyum, “Mau ke makam Ayah. Gue kangen nih. Mau ya? Please…” Taura memohon. Tampangnya juga melas sekali.
Untuk kedua kalinya, keempat sahabat Taura saling pandang. Lalu, dengan menghela napas panjang mereka beranjak. “Asal lo jangan pingsan lagi ya! Kita panik tau waktu lo pingsan. Janji?!” kali ini Pisces yang berbicara. Yang lain mengangguk setuju dengan ucapan Pisces.
Taura tersenyum, lalu merangkul teman-temannya. “Tenang aja deh. Sekarang gue udah nggak selemah dulu. Gue janji nggak bakal pingsan lagi. Thank you my best friends!!”
Sampai di pemakaman ayah Taura, mereka berjongkok. Menatap batu nisan di makam itu. Nama ayah Taura terukir indah disana. Taura tersenyum tulus. Perlahan-lahan air matanya turun membasahi pipinya. Dengan perlahan, Taura menggumamkan nama ayahnya. “Ayah...”
Sagita dan Virgo yang berada disisi kanan-kiri Taura menepuk bahunya pelan, seolah menenangkan Taura yang sedang berduka. “Jangan nangis. Tuhan memanggil ayahmu waktu itu bukan untuk membuatmu menangis. Tapi untuk membuatmu lebih tegar. Membuat keluargamu lebih kuat.” ujar Virgo dengan bijak. Entah darimana ia mendapat kata-kata bijak itu.
Setelah beberapa lama, mereka pergi dari situ. Namun, sebelum beranjak, Taura sempat meletakkan sebuah kertas putih yang di dalamnya terdapat tulisan tangan dirinya sendiri. Mereka pergi tanpa memandang lagi ke belakang.
Ayah...
Aku tau semua yang ada di dunia ini pasti akan kembali pada-Nya
Aku tau itu, tapi kita takkan pernah tau kapan itu semua terjadi
Aku tak tau kapan teman-teman terdekatku meninggalkanku
Aku tak tau kapan ibu meninggalkanku
Aku tak tau kapan Satria juga akan meninggalkanku
Bahkan aku pun tak akan tau kapan nyawaku meninggalkan ragaku
Tapi ayah...kenapa Tuhan mengambilmu terlalu cepat
Aku sangat sedih...
Tapi, kini aku sudah kembali tegar
Aku tidak lagi lemah seperti dulu
Aku mempunyai banyak teman yang sangat menyayangiku
Teman yang sangat menerimaku apa adanya
Dan aku berharap... Tuhan takkan mengambil mereka lagi
Seperti saat mengambil ayah dariku...
NB: ayah, baik-baik ya. Aku akan menjaga ibu dan Satria dengan baik... Ayah tenang aja. Pokoknya, aku bakal berusaha sebaik-baiknya menjaga mereka. Ayah tenang-tenang aja di surga. Suatu saat, kita bakal bareng-bareng lagi, kok.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar