Ehehe.. ni cerpen emang nggak berjudul. kenapa? karena gue lagi butek nyari judul buat cerpen ini. ya udah beneran deh nggak gue kasih judul.
sebenernya,, ini kisah temen gue. tapi tiba-tiba alur ceritanya berubah drastis! iya! nggak sesuai sama kenyataannya. soalnya otak gue nemuin alurnya gitu. ya udah ngikut aja... eh, buat yang sadar kalo ini kisahnya nggak usah ge-er ato gimana" lho! ahahaha... makasih buat inspirasinya.
well, yang penasaran baca aja! komennya nanti setelah baca. :D
Balkon atas sekolah favorit di kota Yogyakarta. Seorang gadis melamun menatap bukit yang terbentang luas di hadapannya. Gadis itu bernama Tara berumur lima belas tahun. Ia mempunyai paras seperti gadis lainnya. Biasa. Itu yang bisa menggambarkan seorang Tara. Rambutnya panjang terurai dan kulitnya sawo matang. Tanpa sadar ia memanyunkan bibirnya.
“Udah deh, Ra. Ini nggak sepenuhnya salahmu kok. Kamu kan berhak buat milih siapa aja yang bakal jadi pelindung kamu, tempat kamu menyandarkan hati kamu itu.” sahabat Tara yang bernama Ima menghibur Tara. “Lagian dia juga bego! Udah tau suka sama kamu, eh dia nggak bertindak. Jadi keduluan orang lain, kan!” Ima jadi merasa sebal dengan orang yang sedang mereka bahas.
Tara menoleh, “Tapi dia nyebelin banget. Dia nggak bisa bersikap biasa aja. Masa setiap ketemu sama aku dia melengos gitu. Kayak nggak kenal sama aku. Nyebelin banget, kan? Kalau dia biasa aja sih, aku juga nggak gimana-gimana.”
Tara. Gadis itu sedang mengalami kebimbangan. Dia sangat bingung dengan tingkah seseorang. Cowok yang dulu disukainya, namun sekarang… ia juga bingung akan perasaannya. Menurut Ima, Tara sudah tak menyukai orang itu. Ia hanya simpati saja. Alasannya karena sekarang Tara sudah dimiliki oleh Hengga. Tapi, apa iya? Ima juga tidak mengerti. Sampai sekarang Tara masih terus membahas cowok itu.
“Kamu sayang sama Hengga, kan? Jangan kecewain dia. Masalah Ian… suatu saat dia pasti nemuin seseorang yang lebih dari kamu. Aku yakin deh. Tapi kalau Tuhan pengennya kamu sama Ian, ya bisa juga terjadi.” Ima memandang ke lantai bawah. Tatapannya tertuju pada seseorang yang sedang berjalan menuju tempat mereka berdiri. “Tara! Tara! Ian mau kesini tuh. Liat deh.” Ima menarik bahu Tara.
Tara terbelalak. “Heh? Serius? Ya Tuhan…! Aku harus gimana??” Tara mondar-mandir tak karuan. Ketika Tara hendak melongok ke bawah, Ima memberitahu bahwa Ian berada di belakangnya. Tara terpaksa tersenyum.
“Hai, Ian..”
“Em,.. Halo! Kalian ngapain disini?? Kok nggak pulang?” tanya Ian.
“Hehehe.. Iya, lagi cerita-cerita aja. Biasa kan cewek…” jawab Tara kikuk.
Ima yang sedari tadi diam kini justru rusuh sendiri. “Bukannya itu? Hengga?? Hah? Masa?!” gumam Ima.
Dari kejauhan terlihat seorang cowok bertopi yang mengenakan jaket berwarna hitam berjalan. Cowok itu menoleh ke kanan-kiri, terakhir ia mendongak ke atas dan menemukan apa yang dicarinya. “Ima!!! Tara mana? Pasti juga di sana, kan? Tunggu ya!” cowok itu berlari menaiki tangga menuju tempat dimana Tara dan Ima berada.
“Eh, suara siapa ya tadi? Kalian dengar?”
“Iya. Kita denger juga, Ian. Suara cowok ya?” Ima pura-pura tidak tahu itu suara siapa.
“Ima, tapi kayaknya tadi cowok itu nyebut namaku sama namamu kan?”
Ian mengangguk menyetujui.
“Hai…. Wah rame banget! Lagi ngapain nih? Pasti ngomongin sesuatu ya?” Tiba-tiba Hengga muncul di hadapan mereka semua. Tara terkejut bukan main. Ia memandang Ima dengan pandangan pasrah. “Eh, halo. Namaku Hengga. Kamu pasti pacarnya Ima, ya? Wah… hebat ya kamu. Bisa meluluhkan hati dia juga.”
“Iya, Ngga. Itu pacarnya Ima. Maklum, pasangan baru jadi masih malu-malu.”
“Tara!! Apaan sih?!” Ima melotot pada Tara. Sedangkan Ian mencoa menerka apa yang sedang terjadi.
“Aku sama Tara pergi dulu deh. Biar nggak ganggu kalian. Bye! Yuk, Ra!”
Tara bersama Hengga berlalu. Sebelum menghilang, Tara sempat mengedipkan mata pada Ima. Ima hanya membalas kedipan itu dengan pelototan matanya. Ima terduduk lemas sekarang. Ia bingung harus berkata apa pada Ian. Dasar Tara! Sahabat macam apa itu? Membiarkan masalahnya dipecahkan orang lain.
Gemas menunggu Ima berbicara, Ian berbicara duluan. “Kok bengong? Tadi itu pacarnya Tara, kan? Kayaknya orangnya baik. Lebih baik dari aku… Aku bersyukur…” Ian menerawang jauh di atas langit. “Aku memang sayang sama Tara. Kesalahanku juga kenapa dulu aku nggak cepat bertindak. Aku maklum Tara lebih memilih dia. Dia lebih berani dari pada aku. Aku memang bodoh. Dan aku nggak ingin ngulang untuk yang kedua kalinya.”
Alis Ima bertaut, “Kamu lagi suka sama orang lain? Eh, ngomong-ngomong kita belum kenalan secara resmi. Aku Ima.” Ima tersenyum. “Kamu tahu? Tara tu lagi cemas banget sama kamu. Dia takut kamu marah. Soalnya kamu bener-bener ngeliatin kalo kamu marah sama dia. Apa bener kamu marah?”
“Marah? Untuk apa? Aku emang marah. Marah pada diriku sendiri. Aku bener-bener ngerasa seperti pecundang, Ma.” Ian geleng-geleng kepala. “Iya, aku lagi suka sama orang. Orang itu lucu, baik, dan apa adanya. Walaupun aku belum begitu kenal, aku tau dia baik untukku. Tapi, aku nggak tau dia suka sama aku atau nggak. Aku harus gimana ya?” Ian memandang Ima lekat-lekat.
Ima tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke bukit. “Jangan takut untuk mencoba. Kamu takut ditolak? Asal kamu tau, di dunia ini ada yang namanya resiko. Jadi kita harus terima itu. Apapun resikonya, kita harus nerima. Oh ya, emang siapa sih orang itu? Mungkin aku bisa bantu.”
“Aku baru sekali ngobrol sama dia. Tapi langsung nyambung banget. Aku juga nyaman banget di samping dia, serasa bisa selalu jadi diri sendiri. Aku suka sama dia udah agak lama. Ya, bisa dibilang obat sakit hatiku dari Tara.”
“Terus? Cewek itu gimana? Keliatan salah tingkah atau gimana gitu?” pancing Ima.
“Gimana ya? Cewek ini pinter banget nutupin perasaanya. Aku jadi nggak tau deh. Jadi, aku bakal nembak cewek itu hari ini juga. Sekarang juga.” ujar Ian mantap. “Ima…” Ian meraih jemari Ima. Ima bingung setengah mati. Apa-apaan ini? “Cewek yang aku maksud itu kamu, Ma! Aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi cewek aku?”
Ima terkejut bukan main. Refleks dia menampar pipi Ian. “Apa? Jadi kamu pikir aku mau gitu aja? Jadi selama ini aku menjadi pengkhianat bagi sahabatku sendiri? Kamu tau?? Tara sempat marah karena kamu mulai menjauh waktu itu. Tara dengar dari orang lain bahwa kamu lagi suka sama seseorang. Makanya Tara langsung terima Hengga. Tapi ternyata penyebab semua ini adalah aku? Seorang Ima? Tak dapat dipercaya. Walaupun aku juga suka sama kamu jauh sebelum Tara suka sama kamu.. tapi semua ini bener-bener konyol!” Ima beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Ian. Tapi, langkahnya terhenti ketika ia melihat Tara memandangnya dengan tenang. Tak ada emosi di mata itu. Tapi air mata mengucur semakin deras.
Tara tersenyum lalu memeluk Ima. “Ima… maafin aku. Maafin aku karena selama ini udah nyakitin kamu. Aku nggak tau kalau selama ini kamu ngerasain sakit yang begitu dalam.. Maafin aku.”
Ima melepas pelukan Tara. “Justru aku yang minta maaf. Aku udah nyakitin kamu waktu itu. Aku nggak tahu kalau sebenernya…”
Tara menggeleng, “Kamu jauh lebih sakit dari aku. Aku nggak bisa bayangin, gimana sakitnya kamu saat aku nyebut-nyebut dia. Saat aku bilang kalau aku sayang sama dia. Aku nggak bisa bayangin gimana rasanya…”
“Nggak Tara… Aku nggak apa-apa kok.” Ima menghapus air mata Tara. “Eh, Hengga mana?”
“Lagi cari minum. Nanti juga kesini.”
Ian yang sedari tadi terdiam kini berjalan menuju Ima. Ia menyentuh bahu Ima dengan lembut. “Aku nggak minta kamu jawab sekarang.”
“Udah, Ima. Kamu nggak usah menyia-nyiakan kesempatan. Terima aja deh!” bujuk Tara.
Ima berpikir sejenak, “Aku jawab ya!” ujar Ima dengan mantap.
Ian spontan memeluk Ima. “I love you…”
Hengga yang baru muncul langsung terbengong-bengong menatap pemandangan di hadapannya. “Wah… jangan pelukan terus dong. Bikin iri aja. Aku jarang banget nih meluk Tara. Eh, omong-omong jam berapa ini?”
“Jam lima. Wah! Nggak kerasa kita udah dua jam disini. Nunggu sunset sekalian yuk! Dari sini bagus lho! Mumpung masih ada yang pada latihan basket. Jadinya gerbang depan ditutup agak malam.” Sahut Tara.
“Setuju!” jawab Ian dan Ima kompak.
“Cie… kompakan nih…”
“Apaan sih..?? Nyebelin kalian.”
“Hahahaha…”
Sambil menanti sunset, mereka bercanda bersama dan melepas penat dari tugas-tugas sekolah.
*tamat*
gimana? ceritanya biasa aja, kan?? ya udah.. bye!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar