Ingga menuruti kata-kata Vara. Ia pun membungkam mulutnya. "Liat aja, Var. Gue bakal cari tau apa yang terjadi." gumam Ingga.
Sesampainya di kantin, mereka langsung memesan makanan. Tiba-tiba Vara merasa sedikit malas ada di kantin. Padahal tadi ia merasa lapar, tapi entah mengapa ia merasa kenyang sekarang. Ternyata dugaannya benar. Ada seseorang yang mengusiknya. Orang itu Kezi. Semua orang tau siapa Kezi. Dia adalah orang terculun di sekolah Vara yang dengan berani mendekati Vara dengan terang-terangan.
"Halo Vara? Pesen apa nih?" Tidak seperti orang-orang culun biasanya, ia malah percaya diri saat mendekati cewek pujaan seluruh sekolah. "Vara.. pokoknya kamu harus percaya. Waktu itu almarhum Kak Evan beneran ngomong sama aku. Dia nitipin kamu ke aku, Vara..."
Vara menatap Kezi dengan tajam, penuh amarah yang meluap. "Gue nggak percaya. Kakak gue nggak bakal nyerahin adik yang sangat disayanginya ke orang yang nggak bisa jagain gue."
Kezi menggeleng. "Kamu nggak tahu, Vara. Kenapa sih kamu susah percaya sama aku? Oke, fine! Suatu saat kamu pasti akan ngerti. Tapi nggak untuk sekarang, Vara. Kamu akan tau apa yang..."
"Pergi! PERGI!" bentak Vara. Air mata yang ditahannya hampir saja jatuh jika ia tak teringat ucapan kakaknya agar jangan pernah menangis lagi, karena tak ada yang bisa menghapus air matanya selain Kak Evan.
Kezi menuruti ucapan Vara. Ia pun meninggalkan Vara yang masih menahan rasa sakitnya.
***
"Kamu yang sudah membuat Vara jadi seperti ini. Kamu tidak pernah ada di rumah. Seharusnya itu kamu mengurus rumah, mengurus anak. Coba lihat, nilai Vara semakin turun. Ini semua gara-gara kamu!" teriak Papa Vara. Sudah lama kedua orang tua Vara bertengkar. Bahkan mereka tidak pernah lagi memanggil Papa dan Mama. Mereka sungguh telah merasa asing satu sama lain.
"Apa kamu bilang?? Aku yang menyebabkan semua ini? Aku?? Dengar! Aku ini membantu kamu untuk menopang kondisi ekonomi keluarga kita! Lihat sekarang! Rumah kita mewah, apa-apa ada. Kenapa kamu menyalahkanku?!" bentak Mama Vara tak mengalah.
Vara yang mendengar pertengkaran itu segera turun ke bawah dan berdiri di hadapan mereka. "Tapi aku nggak butuh itu semua! Aku hanya butuh sebuah keluarga! Keluarga yang utuh!" setelah mengatakan itu, Vara berlari keluar. Entah akan kemana ia pergi. Ia tak tahu. Walaupun tubuhnya basah kuyup terguyur hujan seperti saat ini, ia tak peduli. Karena ia tahu, tak ada yang akan mempedulikannya.
Langkah Vara terhenti di sebuah halte. Ia menenangkan hatinya disana. Ia menangis. "Kak Evan.. maafin Vara. Vara nggak bisa untuk nggak nangis. Kak Evan pasti lihat, kan? Kak Evan tahu kan apa yang selalu mereka lakuin? Mereka nggak pernah peduli sama Vara, Kak..." Vara memandang bintang yang paling terang di langit. Karena menurut mitos, orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang paling terang. Vara percaya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar