Zia. Cewek yang paling usil di sekolahnya itu kembali membuat ulah. Kali ini dia menyembunyikan buku tugas milik teman sekelasnya di bawah bak sampah kelas. Padahal, buku tersebut sangat diperlukan oleh sang pemilik. Jelas sekali karena guru yang memberikan tugas tersebut pasti akan marah jika mengetahui ada anak yang tidak mengumpulkan tugasnya. Apapun alasannya tidak akan diterima.
Zia melakukan aksinya tersebut saat istirahat tiba. Saat murid-murid lain sudah keluar dan hanya tinggal dia sendiri yang berada di kelas tersebut. Seperti seorang pencuri, dengan sigap Zia menggeledah tas milik temannya itu. Dan... langsung saja ia menyembunyikan bukunya.
“Ehem...!” seru seseorang dari daun pintu kelas. Suara seorang cowok. Dan benar, ketika Zia membalikkan tubuhnya, ia melihat Lando, sahabatnya yang berada di kelas lain. “Kebiasaan buruk kamu itu belum juga hilang, ya?”
“Eh, Lando.. hehe.” Zia menampakkan wajah innocent andalannya. “Ssstt.. Udah deh. Kamu diem aja. Kalau udah kelar dan tau juntrungannya, kamu juga bakal tertarik ma ceritaku. Ngaku deh!” Zia berjalan mendekati Lando setelah selesai menempatkan buku tersebut di sisi yang aman. “Yuk, ke kantin. Aku yang traktir.” Zia berjalan mendahului Lando dan Lando mengikuti di belakangnya.
“Sampai kapan kamu bakal gini terus? Nggak takut kena batunya? Aku aja yang nyaksiin takut.” Ujar Lando sambil mensejajarkan langkahnya. “Aku tuh udah sejak SD ngelakuin hal konyol gini. Apa kamu nggak bosen? Apa kamu nggak pernah takut kamu di benci anak-anak?”
Zia tidak memerhatikan perkataan Lando dan malah senyum sendiri.
“Zia!” seru Lando tepat di telinga Zia.
“Heh? Apaan sih kamu? Bisa ngomong baik-baik, kan? Sakit nih kuping aku.” Zia bersungut-sungut kesal. Lalu meninggalkan Lando yang berdiri terpaku. Karena tidak melihat sahabatnya di samping, Zia lalu menoleh dan berseru. “Wooy... Jangan bengong! Mau aku traktir nggak?”
Zia dan Lando, mereka memang bersahabat sejak kecil. Mereka tidak pernah bertengkar hebat. Mereka selalu menjaga agar persahabatan mereka tetap terjalin dengan akrab. Apalagi mereka selalu satu sekolah dan Lando diminta untuk selalu menjaga Zia.
“Zia... aku pasrah sama kamu.” gumam Lando. Ia pun menyusul Zia.
***
“Mati aku! Mana buku tugasnya??? Perasaan udah aku masukin tas..,” bisik seseorang ke teman sebangkunya. Yap! Dia Bino, cowok lugu pemilik buku yang di sembunyikan Zia. Kebetulan karena Zia ada di belakangnya, ia dapat mendengar bisikan tersebut.
“Masa?? Tugasnya harus dikumpulin sekarang. Apa kamu belum ngerjain kali?” tuduh teman sebangkunya dengan suara yang sedikit keras. “Wah, aku nggak ikut-ikut ya. Cari dulu sana. Ati-ati lho di hukum.”
“Iya, tapi aku udah cari dan aku udah ngerjain tugasnya. Apa belum aku masukin ke dalam tas ya? Masa sih? Aku lupa kali ya? Bego banget sih aku.. Aduhh!! Aku harus gimana nih? Bantuin dong.” ujar Bino ribut sendiri.
“Kenapa kamu ribut sih?? Jangan tanya aku! Tanya tuh sama diri kamu. Aku juga baru nyelesain nih.”
Di tengah perdebatan antara Bino dan teman sebangkunya itu, Zia tiba-tiba ikut nimbrung. “Kalian itu ngeributin apa sih? Boleh ikutan nggak? Kayaknya asik.” Bisik Zia disertai raut muka andalannya yang sangat innocent.
“Asik.. asikkmu!!.. Aku sengsara ini! Bukan asik. Eh, katanya mau ikutan, kan? Bantuin cari buku tugas warna ijo punyaku dong...”
“Waduh, Bino. Maaf ya, kalau itu aku nggak ikut-ikut deh. Maaf orang yang anda minta sedang sibuk.” Setelah berkata itu, Zia kembali berkutat dengan novel bawaannya sambil terkikik sendiri.
***
Saat berada di rumah Zia, Lando hanya terdiam. Duduk meringkuk seperti orang yang sedang kedinginan. Padahal, biasanya Lando langsung bermain PS bersama adik Zia yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Karena tidak seperti biasa, Zia mendekati Lando dan menepuk dahinya sedikit keras.
“Aduuhh!!” seru Lando sambil memegang dahinya yang sakit. “Ngapain sih?”
“Mukul jidat kamu. Masa nggak tahu? Dasar bego! Kamu kenapa sih, Lan? Aneh... Kamu sakit?” Zia mengambil camilan yang berada di meja. “Atau ada masalah? Tumben... biasanya hidup kamu tenteram, aman, damai, dan sejahtera.”
Lando menghembuskan napas keras. “Hhhh... Tumben kamu nggak cerita masalah aksimu?” Lando membenarkan posisi duduknya. “Mana adikmu?”
Zia memukul dahinya. “Oh! Nggak tahu, adikku renang kali.” Jawab Zia sekenanya. “Gini, tadi itu pokoknya aku geli banget. Bino disuruh nyanyi di depan kelas. Tapi dia malah nyanyi lagu ciptaannya sendiri. Lucu abis. Kena marah deh tuh anak. Abis gitu, dia di suruh buat soal yang tingkat tinggi. Adalagi, disuruh apa ya? Lupa aku. Pokoknya seru!!” Zia berkata dengan menggebu-gebu.
“Oh...” kata Lando sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Kok tanggepannya cuma gitu? Biasanya kan ketawa.” Zia memandang tajam mata Lando. “Kamu kenapa sih? Kalau ada masalah cerita aja. Selama ini kamu belum pernah cerita masalahmu ke aku.” Zia siap untuk menjadi pendengar setia.
“Nggak, aku nggak punya masalah. Aku cuma agak sakit aja.”
“Sakit apa? Sakit hati ya? Hehehe... Eh, omong-omong, kamu belum pernah cerita. Kamu lagi suka siapa sih?? Penasaran..” tanya Zia sambil terkekeh.
“Hah?!”
***
Esok harinya, saat Zia akan keluar kelas, ia mendapat sebuah surat dari Lando. Tapi Lando tidak memberikannya langsung pada Zia. Dia menitipkannya pada teman sekelas. Tumben Lando ngirim surat? Kenapa nggak ngomong langsung aja sih? batin Zia. Ia membuka dan membacanya di bangku depan kelas. Saat membaca pertama-tama, Zia tertawa dan tak dapat berhenti. Namun, lama-lama perasaannya tidak enak.
Dan benar... perasaan tidak enaknya itu menandakan sesuatu. Ia harus kehilangan Lando untuk sementara waktu. Lando menulis surat itu ternyata untuk mengucapkan perpisahan. Memang... bukan perpisahan selamanya. Hanya sementara, namun tetap saja lama. Lando sedang mengobati dirinya yang sedang sakit di luar negeri. Namun disitu Lando tidak mengatakan apa penyakit yang dideritanya.
Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah pada kalimat terakhir, Lando mengatakan bahwa dia menyayangi Zia. Dan berjanji akan kembali secepatnya untuk menemui Zia dengan membawa dua ekor merpati putih untuk Zia.
“Lando... Kenapa kamu nggak bilang sih?? Huh! Aku sebel banget sama kamu. Pokoknya kamu harus janji buat balik kesini. Kamu harus janji nemuin aku lagi. Kamu nggak boleh pergi lagi. Dan kamu nggak boleh bohongin perasaanmu. Aku juga nggak bakal bohong sama perasaanku. Tepati janji kamu Lando!!” kata Zia sambil menuding-nuding surat tersebut.
Saat ia memandang langit, tiba-tiba saja ada burung merpati putih melintas dan mengingatkannya pada Lando yang sering berkata ingin sekali memberikan merpati putih untuk orang yang disayanginya.
***
Satu setengah tahun dilalui Zia dengan lambat. Sehari-harinya, Zia tetap ceria seperti biasa. Sesuai janjinya pada Lando, ia mencoba untuk menghilangkan kebiasaan buruknya. Sekarang Zia tak pernah lagi jahil kepada teman-temannya. Tapi, kadang Zia juga merasa sepi karena tak ada yang bisa lakukan. Pernah, Zia berniat untuk melakukan keusilan lagi, tapi ia terbayang kata-kata Lando yang memintanya untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. Jadilah ia menghentikan kebiasaan itu.
Hari ini, Lando akan pulang. Tidak sabar rasanya menanti selama setengah tahun. Dan akhirnya penantiannya tersebut terjawab ketika ia melihat Lando berada di pintu rumahnya.
“Hai Zia...” sapa Lando lembut.
Zia bangkit dari duduknya dan menghampiri Lando. “Lando!!! Kamu tuh nyebelin banget!! Nyebelin! Kenapa kamu nggak bilang sih sebelumnya?” Zia menyambut Lando dengan pukulan tangannya yang keras.
“Aduduhhh...! Gimana sih? Aku datang kok sambutannya gini? Aku balik aja deh..” Lando membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauh dari rumah Zia. Zia mendiamkan saja karena ia tahu, Lando pasti takkan pergi. Benar dugaannya, ternyata Lando mengambil merpati putih yang ia letakkan di pintu gerbang rumah Zia. “Nih. Sesuai janjiku. Aku bawa merpati ini. Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga sayang sama kamu. Aku juga udah nepatin janjiku untuk ngilangin kebiasaan itu. Tapi sekali-kali boleh ya? Bosen nih...” rengek Zia. Ia menggenggam tangan Lando dan mengajaknya duduk.
“Iya deh.. Asal aku juga diajak ya? Aku kan juga bosen kalau cuma ngeliat. Hehehe...”
“KAKAK!!!” teriak adik Zia yang melihat mereka. “Kalian jadian??” tanyanya heran.
“Emangnya kenapa?” tanya Zia dan Lando bersamaan.
“Nggak boleh!! Sebelum aku dapet! Pokoknya cariin untuk aku dulu!!”
“HAH???!!!!”
the end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar