GUBRAK!!
Suara benda terjatuh itu terdengar sangat keras walaupun aku masih dalam keadaan sedikit sadar. Apa sih itu? Berisik banget! Sesaat aku merasakan punggungku sakit dan kasurku berubah menjadi dingin. Aku mencoba membuka mataku dan menemukan aku terbaring di lantai. Ooohhh… Rupanya aku yang tadi terjatuh dan menimbulkan suara keras itu. Hmmm… Hah??! Aku yang jatuh?? Aku duduk dan mengelus-elus punggug serta bokongku yang terbentur lantai.
“Adududuhh… Kok bisa jatuh sih? Mimpi apaan ya? Ahh!” aku mengingat mimpi yang dapat membuatku terhempas di lantai keras ini. Aku mengingatnya. Mimpi yang selalu hadir ditiap malamku, walaupun tak selalu sama. Namun mimpi-mimpi itu mempunyaitujuan yang sama yaitu membuatku menahan perih.
Tok..tok..
Aku tersadar dari lamunanku dan menghapus airmataku yang hampir mengalir. “Tunggu bentar!” seruku dari dalam kamar berukuran 8 x 7 m ini. “Eh, mama! Ada apa?” tanyaku santai.
Mama menjewerku pelan, “Ada apa.. Ada apa.. Lihat ini pukul berapa?? Kamu mau telat?”
Aku melongok jam dinding di kamarku setelah Mama melepaskan jewerannya. Aku terkejut. Melongo sesaat seperti orang bodoh. Lalu aku masuk kamar dan tidak sengaja membanting pintu kamar di depan wajah Mamaku. DI DEPAN WAJAH MAMAKU. Gimana coba? Mau jadi sate apa? Berani-beraninya berlaku tidak sopan kepada orang tua.
“Beauty! Kamu ini, namamu bagus dan indah. Tapi kelakuanmu itu tidak mencerminkan namamu. Dasar anak bandel. Buka pintunya! Jangan dikunci! Mama mau masuk. Kamu seharusnya berlaku sopan terhadap orangtuamu. Kamu tahu? Kelakuan seperti itu sangat tidak pantas dilakukan oleh anak perempuan. Kamu blablabla… Kamu blablabla… Kamu…” aku yang mendengar celotehan Mama geli sendiri. Ah, mending cepet mandi deh daripada dengerin ceramah. Hihihi…
Setengah jam kemudian aku telah selesai mandi, berpakaian, dan sarapan. Tanpa basa-basi aku berpamitan pada Mama -yang masih menekukkan wajahnya- dan segera menuju ke mobil Ayah.
“Dah mama! Mama cantik deh!!” teriakku dari dalam mobil. ”Tancap gas, Yah!” Ayah pun segera menancapkan gas dan kami berangkat!
Sampai di sekolah, aku berpamitan pada Ayah dan berlari tunggang langgang. “Hati-hati, Yah!” aku melambai dari kejauhan dan ayah membalasnya. Karena aku lari sambil menghadap ke belakang, aku pun menabrak seseorang yang berada di belakangku.
“Aduh! Maaf banget ya.” Aku mengambilkan jaket si empunya dan merasa mengenali jaket itu. Aku mendongak dan melihat sepasang mata tajam sedang menatapku. Tatapan mata itu memang tajam, namun tidak menyorotkan kemarahan atau benci. Malah terlihat sangat teduh dan menggetarkan hati, terutama aku. Hhehe..
“Maaf ya, Victor..” aku tersenyum dan bangkit menyusul dia. “Ini jaket kamu. Maaf sekali lagi.” Ucapku dengan tulus.
Dia tersenyum sambil menaikkan satu alisnya, hal yang sering sekali dia lakukan. “Nggak papa, Venus! Aku masuk dulu ya.” Dia melenggang pergi.
Victor, orang itu yang selalu aku mimpikan setiap malam. Orang itu yang mampu mengalihkan perhatianku. Orang itu yang sangat aku sayangi. Orang itu yang selalu membuatku sakit ketika aku mengingat mimpiku. Dan, orang itu yang mampu membuatku berdiri mematung beberapa detik, hanya untuk mereview apa yang baru saja terjadi.
Tiga hari setelah itu…
Class meeting dimulai. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Kalau aku memang benar-benar menyayanginya, kenapa aku tidak memberitahunya saja? Bukan maksudnya untuk nembak, cuma ngaku aja itu. apa sekarang aja ya? Tepatkah waktunya? Hmm… aku nggak boleh ngulur-ngulur waktu lagi. Aku harus ngaku hari ini juga. tekadku dalam hati. Apapun resikonya, harus aku hadapi karena hidup penuh resiko! Yeah!
Aku mencari-cari Victor yang sedang sibuk. Karena aku sedikit pengecut, maka aku putuskan untuk sms dia saja. Dari tadi malam, aku telah mengetik kalimat yang akan ku tulis. Aku menyimpannya di draft. Friska, sahabtku mendukung aksiku dalam pengakuan ini. karena dia tahu bahwa aku sudah lama memendam perasaan pada Victor, maka Friska menyarankan agar aku segera mengatakannya. Dibantu Friska, aku menguakan hatiku ketika sms itu akhirnya terkirim. Aku melihat Victor yang sedang meraih handphone-nya dari kejauhan. Aku melihat ekspresinya ketika dia membaca sms itu.
“Fris, gue deg-degan nih..!” gemuruh di hatiku berambah keika aku melihat Victor beranjak dari duduknya dan berlari ke kelas. “Astaga, Fris! Dia mau kesini! Gue harus ngumpet, nih. Aduh…” aku panikk sekali ketika melihat Victor telah dekat dengan kelas.
“Nggak, Ven! Venus, lo harus hadapi semuanya.” Friska pergi meninggalkanku saat Victor telah di ambang pintu. Friska keluar meninggalkanku.
Tubuhku gemetar, napasku tersendat-sendat tak karuan. “Eh, hai, Vic!” sapaku kikuk.
Victor duduk di sampingku. Kebetulan saat itu kelas sepi karena anak-anak sedang melihat pertandingan basket. “Aku udah nerima sms kamu. Makasih atas pengakuannya. Tapi, apa itu bener?” tanya Victor sedikit salting.
Aku mengangguk dan menunduk, tak berani menatap matanya.
“Aku juga sayang sama Venus.” Ucap Victor lembut dan lirih. Namun entah mengapa suara itu bagaikan petir. Suara itu sangat keras dan membuat hatiku lega. Ternyata cintaku terbalas!! Pekikku dalam hati. “Mau nggak kamu jadi pacarku?”
Aku pasti mimpi! Iya, ini pasti mimpiku seperti biasa yang sangat indah, namun ketika aku terbangun aku hanya akan dilanda perih. Diam-diam aku mencubit lenganku. Aku meringis kesakitan. “Eemm… aku jawab nanti pulang sekolah gimana?” tanyaku.
Wajah Victor terlihat kecewa. “Nggak bisa sekarang?” tanyanya. Lalu dia berkata, “Oke, nanti aku tunggu di aula. Aku pergi dulu ya!” Victor beranjak pergi untuk kembali menuntaskan tanggung jawabnya.
“Aku mau.” Jawabku spontan. Entah bagaimana bisa kata itu meluncur dengan mulusnya. Wajahku merona sesaat. Victor membalikkan tubuh, memandangku takjub.
“Bener?” tanya Victor berbinar-binar. Aku mengangguk lalu berdiri. Victor mengacak-acak rambutku pelan. “Makasih ya! Aku sayang banget sama kamu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar