
Gitar mengakhiri petikan gitar terakhir itu dengan lembut. Ia dapat merasakan bulu kuduknya berdiri sesaat mendengar petikan gitar dari nada-nada yang dia mainkan. Malam ini, ia dapat menunjukkan kepada kedua orangtuanya bahwa dirinya dapat membanggakan mereka sebagai seorang musisi. Semua itu terbukti karena penonton yang menontonnya terkesima dengan penampilannya. Semua penonton terdiam, sebagian ada yang menangis. Ya, Gitar baru saja menampilkan performance-nya dengan sukses. Ia membawakan lagu dari Secondhand Serenade-Your Call yang sedikit ia ubah sesuai keinginannya, dan perubahan itu justru menambah kehebatan lagu tersebut. Gitar berdiri dari posisi duduknya. Ia memberikan salam penutup dengan cara meletakkan tangan kanannya di atas perut dan membungkuk. Seketika itu penonton bertepuk tangan ricuh dan ada juga yang bersiul. Gitar menoleh sekilas kepada kedua orangtuanya, mereka terliat bangga padanya. Setelah sedikit tebar senyum, Gitar pun pergi ke backstage menemui pacarnya. “Kamu sukses berat, sayang... Aku bangga sama kamu.” Puji pacarnya yang sedari tadi mendengarkan alunan gitar sang kekasih dari backstage. Sekilas, di ciumnya pipi Gitar . gitar diam membeku. “Makasih atas pujian lo. Gue tahu, gue emang hebat.” Kata Gitar, ia meraih handuk di sofa dekatnya lalu mengelap keringat yang masih membanjiri keningnya. “Tapi, semua itu percuma, Tara. Kalau lo dukung gue tapi diem-diem lo juga ngekhianatin gue. Iya, kan?” tanya Gitar dengan tatapan tajam. Tatapan yang seperti biasa ia gunakan bila ia sedang marah kepada orang.
Kening Tara berkerut, “Gue, nggak ngerti arah pembicaraan lo. Maksudnya apa sih, sayang?” tanya Tara dengan ragu. Ia sedikit panik. Jangan-jangan... Tidak lama, pertanyaan Tara terjawab. “Siapapun elo yang sembunyi entah dimana, gue minta lo tunjukin diri lo! Jangan jadi pengecut yang beraninya Cuma kalo nggak ada gue. Cepet keluar!” teriak Gitar kalap. Untung ruang ganti ini kedap suara, jadi siapapun nggak akan tahu kalau sedang terjadi sesuatu di sana. Tiba-tiba, seseorang muncul di balik lemari baju ganti Gitar. Berani juga sembunyi di situ. batin Gitar.
Sejak pertengkaran hebat yang terjadi di ruang ganti kemarin, Gitar tak mau lagi bertemu dengan Tara ataupun cowok yang bersama Tara- yang ternyata orang yang dianggapnya senior- karena Gitar merasa sakit saat itu. Tapi, anehnya Gitar tak merasakan sakit sesakit saat ia ditinggalkan Jingga. Jingga. Nama itu sudah ia lupakan sejak peristiwa yang sangat menghantam itu. Gitar selalu menyalahkan Jingga karena beberapa bulan setelah terjadinya peristiwa itu, Gitar tidak dapat bermain gitar.
Dulu, keduanya sangat akrab. Mereka malah sempat untuk berpacaran. Namun, baru sehari mereka berpacaran, kejadian itu telah merenggut cintanya. Malam itu, Jingga mengajak Gitar pergi berdua. Gitar sempat menolak karena cuaca yang tidak begitu baik. Namun, Jingga akhirnya memohon sehingga hati Gitar luluh. Gitar menjemput Jingga malam itu. Sayang, saat dalam perjalanan, Gitar mengalami kecelakaan. Jingga selalu dianggap dia-lah yang menyebabkan semua itu. Andai Jingga tak meminta Gitar untuk pergi, mungkin sampai saat ini Jingga masih bersama Gitar. Berada dalam pelukan Gitar. Semua itu tak mungkin. Gitar mengalami luka parah dan menyebabkan dirinya tak dapat bermain gitar dalam waktu tiga bulan. Mimpinya hancur gara-gara gadis itu. Gitar marah pada Jingga dan tak ingin melihatnya kembali. Sebenarnya, Gitar yang memutuskan untuk pindah ke SMA di kota lain. Tak disangka, ternyata Jingga yang memilih enyah dari hadapan Gitar, sesuai dengan keinginan cowok itu.
Sampai saat ini, mereka lost contact dan tak mencoba untuk mengetahui keadaan satu sama lain. “Ngelamun! Cewek baru tuh. Cantik!” seru teman sebangku Gitar. Gitar sadar dari lamunan masa lalunya. Ia mendongak sekilas dan tidak peduli. Namun, ia merasa pernah mengenali sosok itu. Perlahan ia sadar. Ia ingat benar siapa cewek itu. Bersamaan dengan cewek itu, Gitar menyebutkan sebuah nama. “Jingga.” Ya! Cewek itu, Jingga. Orang yang telah melukai dan menggagalkan mimpi Gitar.
“Lengkapnya, Lativa Langit Jingga. Bagian tengah sedikit aneh, ya? Tapi, ya itulah namaku.” Jingga berkata sambil tersenyum manis. Namun, seketika senyumnya menghilang melihat seseorang yang sedang duduk di bangku pojok. Orang itu menatapnya tajam, sorot benci keluar dari tatapan itu. Jingga mengerang dalam hati. Ia pun segera duduk dengan pasrah.
“Kenapa lo harus muncul lagi di hadapan gue?” desis Gitar, membuat teman sebangkunya, Leo merinding ngeri.
Pulang sekolah, Gitar cepat-cepat membereskan bukunya dan membawa pulang gitar kesayangannya. Tiba-tiba, satu genggaman tangan mencekal pergelangan tangannya. Ia menoleh. Terkejut saat mendapati Jingga yang melakukan itu. Gitar melihat keadaan sekeliling kelas. Sepi. Ia segera melepas pergelangan tangannya dengan satu hentakan. Ia tahu, cewek takkan mampu melawan kekuatan cowok. “Jangan ganggu gue.” Tiga kata itu yang berhasil membuat Jingga mematung. Namun sedetik kemudian, ia tersadar dan mengejar Gitar. “Gi, gue masih sangat sayang sama lo. Gue mohon, maafin gue. Ya? Gue tahu, gue bersalah banget saat itu. Tapi, gue bener-bener nggak bisa berbuat apapun. Gue hanya bisa kasih do’a buat lo, kasih support lo walaupun lo masih koma, mati-matian belajar gitar kali aja lo bisa sadar denger petikan suara gitar. Itu pun gue lakuin diem-diem. Karena gue tahu, kalau orangtua lo tahu gue berani deketin lo, mereka bakal marah banget. Selama ini gue cuma bisa berharap, lo maafin gue dan kita temenan lagi. Tapi, mungkin itu mustahil. Lo pasti benci banget sama gue.” Jingga menekankan kata ‘benci’ dalam percakapannya. “Waktu itu, gue udah ancurin semua mimpi lo. Lo sampai nggak bisa lagi main gitar gara-gara gue. Padahal sebulan lagi lo harus
Kening Tara berkerut, “Gue, nggak ngerti arah pembicaraan lo. Maksudnya apa sih, sayang?” tanya Tara dengan ragu. Ia sedikit panik. Jangan-jangan... Tidak lama, pertanyaan Tara terjawab. “Siapapun elo yang sembunyi entah dimana, gue minta lo tunjukin diri lo! Jangan jadi pengecut yang beraninya Cuma kalo nggak ada gue. Cepet keluar!” teriak Gitar kalap. Untung ruang ganti ini kedap suara, jadi siapapun nggak akan tahu kalau sedang terjadi sesuatu di sana. Tiba-tiba, seseorang muncul di balik lemari baju ganti Gitar. Berani juga sembunyi di situ. batin Gitar.
Sejak pertengkaran hebat yang terjadi di ruang ganti kemarin, Gitar tak mau lagi bertemu dengan Tara ataupun cowok yang bersama Tara- yang ternyata orang yang dianggapnya senior- karena Gitar merasa sakit saat itu. Tapi, anehnya Gitar tak merasakan sakit sesakit saat ia ditinggalkan Jingga. Jingga. Nama itu sudah ia lupakan sejak peristiwa yang sangat menghantam itu. Gitar selalu menyalahkan Jingga karena beberapa bulan setelah terjadinya peristiwa itu, Gitar tidak dapat bermain gitar.
Dulu, keduanya sangat akrab. Mereka malah sempat untuk berpacaran. Namun, baru sehari mereka berpacaran, kejadian itu telah merenggut cintanya. Malam itu, Jingga mengajak Gitar pergi berdua. Gitar sempat menolak karena cuaca yang tidak begitu baik. Namun, Jingga akhirnya memohon sehingga hati Gitar luluh. Gitar menjemput Jingga malam itu. Sayang, saat dalam perjalanan, Gitar mengalami kecelakaan. Jingga selalu dianggap dia-lah yang menyebabkan semua itu. Andai Jingga tak meminta Gitar untuk pergi, mungkin sampai saat ini Jingga masih bersama Gitar. Berada dalam pelukan Gitar. Semua itu tak mungkin. Gitar mengalami luka parah dan menyebabkan dirinya tak dapat bermain gitar dalam waktu tiga bulan. Mimpinya hancur gara-gara gadis itu. Gitar marah pada Jingga dan tak ingin melihatnya kembali. Sebenarnya, Gitar yang memutuskan untuk pindah ke SMA di kota lain. Tak disangka, ternyata Jingga yang memilih enyah dari hadapan Gitar, sesuai dengan keinginan cowok itu.
Sampai saat ini, mereka lost contact dan tak mencoba untuk mengetahui keadaan satu sama lain. “Ngelamun! Cewek baru tuh. Cantik!” seru teman sebangku Gitar. Gitar sadar dari lamunan masa lalunya. Ia mendongak sekilas dan tidak peduli. Namun, ia merasa pernah mengenali sosok itu. Perlahan ia sadar. Ia ingat benar siapa cewek itu. Bersamaan dengan cewek itu, Gitar menyebutkan sebuah nama. “Jingga.” Ya! Cewek itu, Jingga. Orang yang telah melukai dan menggagalkan mimpi Gitar.
“Lengkapnya, Lativa Langit Jingga. Bagian tengah sedikit aneh, ya? Tapi, ya itulah namaku.” Jingga berkata sambil tersenyum manis. Namun, seketika senyumnya menghilang melihat seseorang yang sedang duduk di bangku pojok. Orang itu menatapnya tajam, sorot benci keluar dari tatapan itu. Jingga mengerang dalam hati. Ia pun segera duduk dengan pasrah.
“Kenapa lo harus muncul lagi di hadapan gue?” desis Gitar, membuat teman sebangkunya, Leo merinding ngeri.
Pulang sekolah, Gitar cepat-cepat membereskan bukunya dan membawa pulang gitar kesayangannya. Tiba-tiba, satu genggaman tangan mencekal pergelangan tangannya. Ia menoleh. Terkejut saat mendapati Jingga yang melakukan itu. Gitar melihat keadaan sekeliling kelas. Sepi. Ia segera melepas pergelangan tangannya dengan satu hentakan. Ia tahu, cewek takkan mampu melawan kekuatan cowok. “Jangan ganggu gue.” Tiga kata itu yang berhasil membuat Jingga mematung. Namun sedetik kemudian, ia tersadar dan mengejar Gitar. “Gi, gue masih sangat sayang sama lo. Gue mohon, maafin gue. Ya? Gue tahu, gue bersalah banget saat itu. Tapi, gue bener-bener nggak bisa berbuat apapun. Gue hanya bisa kasih do’a buat lo, kasih support lo walaupun lo masih koma, mati-matian belajar gitar kali aja lo bisa sadar denger petikan suara gitar. Itu pun gue lakuin diem-diem. Karena gue tahu, kalau orangtua lo tahu gue berani deketin lo, mereka bakal marah banget. Selama ini gue cuma bisa berharap, lo maafin gue dan kita temenan lagi. Tapi, mungkin itu mustahil. Lo pasti benci banget sama gue.” Jingga menekankan kata ‘benci’ dalam percakapannya. “Waktu itu, gue udah ancurin semua mimpi lo. Lo sampai nggak bisa lagi main gitar gara-gara gue. Padahal sebulan lagi lo harus
tampil demi ngewujudin mimpi lo. Gue bener-bener jahat, Gi! Gue tahu itu. Dan gue juga tahu, betapa susahnya maafin seseorang yang bener-bener udah ngecewain diri kita. Tapi, asal lo mau maafin gue, itu udah cukup kok.” Setelah itu, Jingga meninggalkan Gitar yang termangu sambi menatap gitar miliknya.
Hari-hari setelah percakapannya bersama Jingga saat itu, Gitar benar-benar memikirkan kata-kata Jingga. Dia jenguk gue di rumah sakit?? Belajar gitar?? Masa sih? Kok Papa sama Mama nggak ngasih tahu ya? Apa dia bohong buat cari perhatian gue? Tapi, itu bukan sifatnya. Dia orang yang jujur. Ahh!! Udahlah. Kenapa gue jadi mikirin dia sih??? Setiap hari di kelasnya, Jingga sudah tak pernah lagi mengganggu Gitar. Berbicara pun sangat jarang. Kecuali kalau ada tugas dan kebetulan mereka satu kelompok.
Suatu siang, di siang yang cerah, Gitar memberanikan diri untuk berbicara dengan Jingga. Ia memberanikan diri untuk menghadapi masalahnya. Bukan hanya memaki dan menyalahkan Jingga yang selama ini ia lakukan. “Jingga, temuin gue sore ini di danau ya? Gue tunggu di sana jam 6 sore. Thanks.” Setelah itu, Gitar pergi meninggalkan Jingga yang masih terbengong-bengong. Untungnya, Jingga bisa menangkap pembicaraan Gitar, kalau nggak, hilang sudah kesempatannya bersama Gitar.
Sorenya, pukul 6 tepat, Jingga sudah sampai di sana. Dilihatnya Gitar telah menunggu sambil memegang botol minuman. Jingga tersentak saat ia melihat tanggal pada jam tangannya. Tanggal dan bulan pada hari ini sama seperti hari saat peristiwa itu terjadi. Setahun yang lalu benar-benar memilukan.
“Gitar...” panggil Jingga lembut. “Lo mau kan maafin gue? Mau kan jadi temen gue? Please..” Jingga memohon bahkan saat dia belum duduk di samping Gitar. Cewek itu menatap mata Gitar dengan sendu.
Gitar menggeleng, “Sori, gue emang maafin lo, tapi nggak bisa jadi temen lo. Gue pengen jadi...” Gitar menghela napas, “jadi pacar lo. Apa boleh?” tanya Gitar. Jingga melongo. Menatap Gitar tak percaya. “Serius?” tanya Jingga dengan senang. Di sambut anggukan mantap Gitar. Semalam suntuk, ia terus memikirkan keputusan yang baru saja ia katakan. Dan, Gitar sadar, sebenarnya ia masih menyayangi Jingga.
“Gue mau, Gi. Mau banget. Gue janji gue nggak akan ngecewain lo lagi dan terus ngedukung elo.” Janji Jingga.
“Udah, jangan janji-janji aja. Takutnya malah nggak bisa ditepati. Yang penting jalani aja apa adanya. Makasih ya, gue dikasih kesempatan kedua. Gue sayang elo Jingga.”
Direngkuhnya Jingga dengan hangat, lalu mereka menghabiskan sore hingga malam mereka dengan menatap langit dan bermain air di danau itu.
-happy ending-
Hari-hari setelah percakapannya bersama Jingga saat itu, Gitar benar-benar memikirkan kata-kata Jingga. Dia jenguk gue di rumah sakit?? Belajar gitar?? Masa sih? Kok Papa sama Mama nggak ngasih tahu ya? Apa dia bohong buat cari perhatian gue? Tapi, itu bukan sifatnya. Dia orang yang jujur. Ahh!! Udahlah. Kenapa gue jadi mikirin dia sih??? Setiap hari di kelasnya, Jingga sudah tak pernah lagi mengganggu Gitar. Berbicara pun sangat jarang. Kecuali kalau ada tugas dan kebetulan mereka satu kelompok.
Suatu siang, di siang yang cerah, Gitar memberanikan diri untuk berbicara dengan Jingga. Ia memberanikan diri untuk menghadapi masalahnya. Bukan hanya memaki dan menyalahkan Jingga yang selama ini ia lakukan. “Jingga, temuin gue sore ini di danau ya? Gue tunggu di sana jam 6 sore. Thanks.” Setelah itu, Gitar pergi meninggalkan Jingga yang masih terbengong-bengong. Untungnya, Jingga bisa menangkap pembicaraan Gitar, kalau nggak, hilang sudah kesempatannya bersama Gitar.
Sorenya, pukul 6 tepat, Jingga sudah sampai di sana. Dilihatnya Gitar telah menunggu sambil memegang botol minuman. Jingga tersentak saat ia melihat tanggal pada jam tangannya. Tanggal dan bulan pada hari ini sama seperti hari saat peristiwa itu terjadi. Setahun yang lalu benar-benar memilukan.
“Gitar...” panggil Jingga lembut. “Lo mau kan maafin gue? Mau kan jadi temen gue? Please..” Jingga memohon bahkan saat dia belum duduk di samping Gitar. Cewek itu menatap mata Gitar dengan sendu.
Gitar menggeleng, “Sori, gue emang maafin lo, tapi nggak bisa jadi temen lo. Gue pengen jadi...” Gitar menghela napas, “jadi pacar lo. Apa boleh?” tanya Gitar. Jingga melongo. Menatap Gitar tak percaya. “Serius?” tanya Jingga dengan senang. Di sambut anggukan mantap Gitar. Semalam suntuk, ia terus memikirkan keputusan yang baru saja ia katakan. Dan, Gitar sadar, sebenarnya ia masih menyayangi Jingga.
“Gue mau, Gi. Mau banget. Gue janji gue nggak akan ngecewain lo lagi dan terus ngedukung elo.” Janji Jingga.
“Udah, jangan janji-janji aja. Takutnya malah nggak bisa ditepati. Yang penting jalani aja apa adanya. Makasih ya, gue dikasih kesempatan kedua. Gue sayang elo Jingga.”
Direngkuhnya Jingga dengan hangat, lalu mereka menghabiskan sore hingga malam mereka dengan menatap langit dan bermain air di danau itu.
-happy ending-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar