PROMISE TO BELIEVE

^ WELCOME ^

Selasa, 28 Desember 2010

Only One

Di sebuah taman di suatu perumahan. Seorang cowok berbaju dengan nomor punggung 7 dan tertera nama Rangga berdiri mematung memandang bola basket yang ada di tangannya. Bola itu hendak ia masukkan ke dalam ring di hadapannya yang menjulang tinggi. Rangga bersiap-siap memasukkannya dan hop! Bola itu masuk dengan sempurna.

Tak jauh dari tempat Rangga berdiri, terdengar suara tepuk tangan yang mungil. Ia sudah tahu suara tepukan siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Rima, pacarnya yang selalu mengerti keadaannya. Rangga sangat menyayangi ceweknya itu. Tubuhnya yang mungil terlihat sangat kecil di mata Rangga. Apalagi tinggi Rangga yang hampir mencapai 180 cm.

“Hai, Sayang...,” sapa Rangga tanpa menghampiri Rima. Ia tetap masih berkonsentrasi dengan permainan basketnya.

“Ga, aku mau ngomong serius.”

Rangga tetap masih bermain dengan bolanya. “Ngomong aja lagi, Rim.”

“Bahkan aku mau ngomong serius aja kamu masih tetep berkutat sama bola itu,” ujar Rima sedikit membentak.

Rangga tersentak lalu ia membiarkan bola basket –yang hampir saja masuk dalam ring dengan mulus– membentur mulut ring dengan sukses. Ia berlari kecil menghampiri Rima yang memandangnya dengan sinis. Cowok jangkung itu lalu berjongkok di depan Rima dan menggenggam kedua jemari ceweknya yang mungil. “Ada apa, sih? Kok kayaknya serius banget?”

Rima menyunggingkan seulas senyum termanisnya. Tak lupa lesung pipi di pipi kirinya juga ia perlihatkan. “Ga, aku tau udah waktunya kamu berjuang buat sekolah. Saat ini banyak pertandingan di sana-sini, kan? Karena itu, aku nggak pengen ganggu konsentrasi kamu. Aku pengen kamu berjuang dan berusaha bareng tim kamu. Apalagi kamu sebagai kapten. Aku nggak pengen konsentrasimu itu terpecah,” tutur Rima lembut lalu ia mengambil napas panjang, “Kita putus!” tandas Rima. Melihat cowok di depannya tidak bereaksi, Rima melepaskan genggaman tangan Rangga. Ia bersiap untuk berdiri dan meninggalkan Rangga.

Rangga berdiri. Ia menatap kedua manik mata di hadapannya dengan tajam. Resiko yang harus Rima hadapi adalah kemarahan Rangga. Ketika cowok itu memang benar-benar marah, ia bisa saja bertindak barbar dan semaunya. Tapi di depan Rima, baru kali ini Rangga bersikap begitu dingin dengan dirinya.

“Apa kamu bilang? Putus? Rima... Tolong katakan kalau ini cuma mimpi.” Tatapan Rangga berubah melunak. Ia meraih kedua tangan Rima lagi. “Rima, kenapa kamu seolah ngasih aku pilihan yang berat?”

“Karena memang hanya itu pilihannya. Nggak ada lain. Ini yang terbaik buat kita.” Rima meninggalkan Rangga dengan cepat. Cewek itu menangis sambil berlari. Rangga tahu sebenarnya Rima nggak ingin semua ini terjadi. Dia pasti juga terpaksa.

“RIMAAAAAAAAAAAA!!!” seru Rangga. Ia membanting bola basket sekencang-kencangnya.

Splash! Segelas air putih mendarat di wajah Rangga. “Diem goblok!”

“SIAPA SIH YANG NYIRAM AIR?” geram Rangga tanpa sadar. Ia terbangun dari tidurnya. Melihat sekeliling membuat Rangga tersenyum kecut. Ternyata tadi cuma mimpi. Sekarang yang di hadapannya adalah gorila-gorila berbau keringat. Termasuk dirinya.

“Lo kenapa? Kok tadi teriak-teriak gitu? Mimpiin Rima ya? Pasti mimpi jorok tuh! Hayo ngaku lo...,” ledek salah satu temannya.

“Gue mimpi buruk tau! Sial,” gerutu Rangga. “Hooaaahhhmm...,” Rangga mengulet dengan kerasnya.

“Salah sendiri siang-siang bolong gini enak-enakan tidur. Kita dari tadi latihan gini, eh kaptennya malah mimpi!”

“Oke deh, kalo gitu kita latihan. Ayo! Pertandingan tinggal nunggu hari kok.” Rangga bangkit dan mengambil bola basket di tengah lapangan.

“Nggak deh! Lo sendiri aja. Kita mau ke kantin dulu. Daaaahhh...”

Dengan santainya anak-anak yang berlatih basket kini meninggalkan Rangga sendiri di tengah lapangan indoor. Saat mereka hendak keluar, Rima datang masuk. Mereka dengan hormat memberi salam dan senyum manis mereka. Dasar anak buah yang buruk! Sama kaptennya nggak hormat tapi sama pacar kaptennya malah hormat banget.

Tiba-tiba Rangga merasakan de javu. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ada kejadian serupa yang pernah terjadi. Frustasi karena tidak menemukan petunjuk, ia mencoba untuk menoleh kearah Rima sekilas. Gadis itu masih mengobrol dengan anak-anak basket.

“Ah!” Rangga tersentak ketika ia mulai mengingat sesuatu. Bola basket yang ada ditangannya ia pegang dengan gemetar. Bersamaan dengan Rima yang berjalan kearah Rangga, ia melempar bola itu ke dalam ring basket. Semua pun terjadi dengan sangat cepat. Persis seperti mimpinya tadi namun dengan latar tempat yang berbeda. Semua yang ada di dalam mimpinya benar-benar terjadi. Tanpa bisa Rangga mengerti, Rima mengatakan hal yang hampir serupa dengan yang ada di dalam mimpi Rangga. Sungguh ajaib! Namun keajaiban itu menjadi mimpi buruk bagi Rangga! Mimpi buruk di siang hari ini!

“Rima... Rimaaaaa!!!” seru Rangga ketika gadis itu berlari tanpa memedulikan dirinya. Bahkan menoleh sekalipun tidak. Rangga membanting bola basket yang ada di sekitarnya kearah tribun penonton. Lemparan bola terakhirnya secara tidak sengaja mengarah ke pintu masuk dan hampir saja mengenai kepala pelatih Rangga. Pelatihnya sontak kaget dan memandang tajam kearah Rangga.

Rangga menghampiri Pak Andre, pelatihnya. Pak Andre tersenyum karena mengira Rangga akan meminta maaf akan perbuatannya tadi. Tapi ternyata di luar dugaannya. Rangga justru memperburuk suasana hati Pak Andre. “Maaf, Pak! Saya tidak bisa mengikuti latihan hari ini. Permisi.” Setelah berbicara begitu dengan sang pelatih, Rangga pergi begitu saja tanpa mengepak barang-barangnya.

Beberapa hari kemudian, Rangga sudah kembali seperti biasa. Konsentrasinya sudah sepenuhnya terfokus pada basket, basket, dan basket. Sebelumnya ia belum melupakan Rima sepenuhnya. Ia masih sering teringat dengan gadis itu. Apalagi mereka masih sering bertemu dan sesekali saling sapa. Tapi mereka benar-benar terlihat kikuk.

Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Rangga dan teman-teman satu timnya. Mereka telah siap untuk bertanding melawan SMA Daggo. Saat ini, mereka sedang melakukan pemanasan bersama tim dari sekolah lawan. Masing-masing dari tim telah mengenal satu sama lain. Mereka pun berteman cukup dekat. Hingga akhirnya Rangga mencium sesuatu yang buruk akan terjadi.

Rangga menoleh ke arah tribun penonton. Ia melihat sosok Rima disana. Tapi, tatapan Rima tidak menuju kearahnya namun kearah kapten tim basket SMA Daggo yang terkenal playboy. Rangga mencurigai pasti ada sesuatu antara mereka. Bahkan Shino, kapten itu menghampiri Rima di tribun dan mereka pergi ke luar dari tempat pertandingan. Tanpa sadar, tangan kanan Rangga mengepal. Tak lama, ia pergi menyusul keduanya.

Rangga menemukan Rima dan Shino sedang tertawa bahagia. Namun, ia mendapati sorot mata Rima yang tidak sebahagia saat ini. Tatapan matanya menyiratkan kesedihan dan ketakutan. Tiba-tiba Rangga menarik lengan Shino. Pemilik lengan tersebut terperangah dan melepaskan cekalan tangan Rangga.

“Apa-apaan lo, Ga?!” bentak Shino.

“Lo yang apa-apaan? Ngapain lo disini hah? Lo apain cewek gue?” seru Rangga dengan nada menantang. Seketika ia tersadar bahwa kata-katanya itu salah. Cewek gue? Aissh.. whatever!

“Cewek lo? Cewek lo? Hahahahaha...” Shino tertawa terbahak-bahak. Ia sampai mengeluarkan airmata karena terlalu over. “Nggak salah? Rima, jelasin ke pecundang itu!”

Rima tersentak. Ia memandang seseorang yang terlihat terluka di hadapannya. Mata Rangga menyorotkan bahwa ia sangat terluka. Merasa sangat terkhianati. “Rangga lo harus inget. Kita.. udah.. putus!” jelas Rima dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya. Rima menelan ludah. Ia menunduk, tak berani menatap mata Rangga.

Buuaakk!!!

Bunyi itu terdengar sangat keras di telinga Rima. Seketika gadis itu mendongak dan melihat wajah Shino yang memar. “RANGGA!! Stop! Kurang ajar lo ya!” Rima berusaha untuk mengehentikan perbuatan bengis Rangga.

“Apa maksudmu ngelarang aku? Toh dia juga bukan siapa-siapa kamu, kan?” Rangga bertanya untuk memastikan.

“Shino itu cowok gue! Paham?”

Rangga menatap lurus ke manik mata Rima. Perkataan Rima tadi sungguh seperti suara guntur yang sangat keras. Sangat menyakitkan telinga dan hatinya. Rangga memandang kosong ke tanah dan saat ia mendongak, ia melihat Rima dan Shino telah pergi menjauhi mereka. “Rima, dia itu cowok brengsek! Rima!” panggil Rangga tanpa beranjak dari tempatnya. Sayang, Rima sama sekali tidak menoleh kearahnya. “Damn!” Rangga beranjak pergi dan memasuki tempat pertandingan basket yang akan dimulai sebentar lagi.

“Hei, Ga. Sini deh. Liat tuh anak-anak main basket. Kamu pasti juga pengen, kan?” tanya Rima lembut.

Rangga mendorong kursi rodanya mendekati jendela kamar. Ya! Dari sana ia melihat beberapa anak kecil bermain basket dengan riang. Tenpa sadar Rangga tersenyum. Ia lalu menatap Rima yang saat itu juga sedang menatap dirinya. Pandangan Rangga beralih pada piala kejuaraan sebulan lalu. Kejuaraan yang ia ikuti bersama teman-teman satu timnya. Kejuaraan yang mungkin akan menjadi yang terakhir baginya.

“Suatu saat kamu bisa main basket lagi kok. Percaya deh sama aku,” ujar Rima sambil berjongkok di hadapan Rangga.

“Aku nggak pernah nyesel kecelakaan waktu itu terjadi, Rim. Aku seneng kalau aku bisa main basket lagi. Tapi aku juga nggak sedih kalau memang aku nggak bisa sembuh seutuhnya. Semua udah diatur oleh Tuhan. Jadi aku tinggal turuti aja apa kehendak-Nya. Makasih ya, Rim selama ini udah jagain aku. Aku ngerepotin ya?”

Rima tertawa pelan. “Ngerepotin banget lagi! Tapi aku seneng kok bisa bantuin kamu. Makanya, karena aku dah capek-capek jaga gini, kamu harus berjuang oke? Janji!” Rima menjulurkan jari kelingking mungilnya ke hadapan Rangga. Rangga pun menyambutnya dengan senyum yang mengembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 28 Desember 2010

Only One

Di sebuah taman di suatu perumahan. Seorang cowok berbaju dengan nomor punggung 7 dan tertera nama Rangga berdiri mematung memandang bola basket yang ada di tangannya. Bola itu hendak ia masukkan ke dalam ring di hadapannya yang menjulang tinggi. Rangga bersiap-siap memasukkannya dan hop! Bola itu masuk dengan sempurna.

Tak jauh dari tempat Rangga berdiri, terdengar suara tepuk tangan yang mungil. Ia sudah tahu suara tepukan siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Rima, pacarnya yang selalu mengerti keadaannya. Rangga sangat menyayangi ceweknya itu. Tubuhnya yang mungil terlihat sangat kecil di mata Rangga. Apalagi tinggi Rangga yang hampir mencapai 180 cm.

“Hai, Sayang...,” sapa Rangga tanpa menghampiri Rima. Ia tetap masih berkonsentrasi dengan permainan basketnya.

“Ga, aku mau ngomong serius.”

Rangga tetap masih bermain dengan bolanya. “Ngomong aja lagi, Rim.”

“Bahkan aku mau ngomong serius aja kamu masih tetep berkutat sama bola itu,” ujar Rima sedikit membentak.

Rangga tersentak lalu ia membiarkan bola basket –yang hampir saja masuk dalam ring dengan mulus– membentur mulut ring dengan sukses. Ia berlari kecil menghampiri Rima yang memandangnya dengan sinis. Cowok jangkung itu lalu berjongkok di depan Rima dan menggenggam kedua jemari ceweknya yang mungil. “Ada apa, sih? Kok kayaknya serius banget?”

Rima menyunggingkan seulas senyum termanisnya. Tak lupa lesung pipi di pipi kirinya juga ia perlihatkan. “Ga, aku tau udah waktunya kamu berjuang buat sekolah. Saat ini banyak pertandingan di sana-sini, kan? Karena itu, aku nggak pengen ganggu konsentrasi kamu. Aku pengen kamu berjuang dan berusaha bareng tim kamu. Apalagi kamu sebagai kapten. Aku nggak pengen konsentrasimu itu terpecah,” tutur Rima lembut lalu ia mengambil napas panjang, “Kita putus!” tandas Rima. Melihat cowok di depannya tidak bereaksi, Rima melepaskan genggaman tangan Rangga. Ia bersiap untuk berdiri dan meninggalkan Rangga.

Rangga berdiri. Ia menatap kedua manik mata di hadapannya dengan tajam. Resiko yang harus Rima hadapi adalah kemarahan Rangga. Ketika cowok itu memang benar-benar marah, ia bisa saja bertindak barbar dan semaunya. Tapi di depan Rima, baru kali ini Rangga bersikap begitu dingin dengan dirinya.

“Apa kamu bilang? Putus? Rima... Tolong katakan kalau ini cuma mimpi.” Tatapan Rangga berubah melunak. Ia meraih kedua tangan Rima lagi. “Rima, kenapa kamu seolah ngasih aku pilihan yang berat?”

“Karena memang hanya itu pilihannya. Nggak ada lain. Ini yang terbaik buat kita.” Rima meninggalkan Rangga dengan cepat. Cewek itu menangis sambil berlari. Rangga tahu sebenarnya Rima nggak ingin semua ini terjadi. Dia pasti juga terpaksa.

“RIMAAAAAAAAAAAA!!!” seru Rangga. Ia membanting bola basket sekencang-kencangnya.

Splash! Segelas air putih mendarat di wajah Rangga. “Diem goblok!”

“SIAPA SIH YANG NYIRAM AIR?” geram Rangga tanpa sadar. Ia terbangun dari tidurnya. Melihat sekeliling membuat Rangga tersenyum kecut. Ternyata tadi cuma mimpi. Sekarang yang di hadapannya adalah gorila-gorila berbau keringat. Termasuk dirinya.

“Lo kenapa? Kok tadi teriak-teriak gitu? Mimpiin Rima ya? Pasti mimpi jorok tuh! Hayo ngaku lo...,” ledek salah satu temannya.

“Gue mimpi buruk tau! Sial,” gerutu Rangga. “Hooaaahhhmm...,” Rangga mengulet dengan kerasnya.

“Salah sendiri siang-siang bolong gini enak-enakan tidur. Kita dari tadi latihan gini, eh kaptennya malah mimpi!”

“Oke deh, kalo gitu kita latihan. Ayo! Pertandingan tinggal nunggu hari kok.” Rangga bangkit dan mengambil bola basket di tengah lapangan.

“Nggak deh! Lo sendiri aja. Kita mau ke kantin dulu. Daaaahhh...”

Dengan santainya anak-anak yang berlatih basket kini meninggalkan Rangga sendiri di tengah lapangan indoor. Saat mereka hendak keluar, Rima datang masuk. Mereka dengan hormat memberi salam dan senyum manis mereka. Dasar anak buah yang buruk! Sama kaptennya nggak hormat tapi sama pacar kaptennya malah hormat banget.

Tiba-tiba Rangga merasakan de javu. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ada kejadian serupa yang pernah terjadi. Frustasi karena tidak menemukan petunjuk, ia mencoba untuk menoleh kearah Rima sekilas. Gadis itu masih mengobrol dengan anak-anak basket.

“Ah!” Rangga tersentak ketika ia mulai mengingat sesuatu. Bola basket yang ada ditangannya ia pegang dengan gemetar. Bersamaan dengan Rima yang berjalan kearah Rangga, ia melempar bola itu ke dalam ring basket. Semua pun terjadi dengan sangat cepat. Persis seperti mimpinya tadi namun dengan latar tempat yang berbeda. Semua yang ada di dalam mimpinya benar-benar terjadi. Tanpa bisa Rangga mengerti, Rima mengatakan hal yang hampir serupa dengan yang ada di dalam mimpi Rangga. Sungguh ajaib! Namun keajaiban itu menjadi mimpi buruk bagi Rangga! Mimpi buruk di siang hari ini!

“Rima... Rimaaaaa!!!” seru Rangga ketika gadis itu berlari tanpa memedulikan dirinya. Bahkan menoleh sekalipun tidak. Rangga membanting bola basket yang ada di sekitarnya kearah tribun penonton. Lemparan bola terakhirnya secara tidak sengaja mengarah ke pintu masuk dan hampir saja mengenai kepala pelatih Rangga. Pelatihnya sontak kaget dan memandang tajam kearah Rangga.

Rangga menghampiri Pak Andre, pelatihnya. Pak Andre tersenyum karena mengira Rangga akan meminta maaf akan perbuatannya tadi. Tapi ternyata di luar dugaannya. Rangga justru memperburuk suasana hati Pak Andre. “Maaf, Pak! Saya tidak bisa mengikuti latihan hari ini. Permisi.” Setelah berbicara begitu dengan sang pelatih, Rangga pergi begitu saja tanpa mengepak barang-barangnya.

Beberapa hari kemudian, Rangga sudah kembali seperti biasa. Konsentrasinya sudah sepenuhnya terfokus pada basket, basket, dan basket. Sebelumnya ia belum melupakan Rima sepenuhnya. Ia masih sering teringat dengan gadis itu. Apalagi mereka masih sering bertemu dan sesekali saling sapa. Tapi mereka benar-benar terlihat kikuk.

Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Rangga dan teman-teman satu timnya. Mereka telah siap untuk bertanding melawan SMA Daggo. Saat ini, mereka sedang melakukan pemanasan bersama tim dari sekolah lawan. Masing-masing dari tim telah mengenal satu sama lain. Mereka pun berteman cukup dekat. Hingga akhirnya Rangga mencium sesuatu yang buruk akan terjadi.

Rangga menoleh ke arah tribun penonton. Ia melihat sosok Rima disana. Tapi, tatapan Rima tidak menuju kearahnya namun kearah kapten tim basket SMA Daggo yang terkenal playboy. Rangga mencurigai pasti ada sesuatu antara mereka. Bahkan Shino, kapten itu menghampiri Rima di tribun dan mereka pergi ke luar dari tempat pertandingan. Tanpa sadar, tangan kanan Rangga mengepal. Tak lama, ia pergi menyusul keduanya.

Rangga menemukan Rima dan Shino sedang tertawa bahagia. Namun, ia mendapati sorot mata Rima yang tidak sebahagia saat ini. Tatapan matanya menyiratkan kesedihan dan ketakutan. Tiba-tiba Rangga menarik lengan Shino. Pemilik lengan tersebut terperangah dan melepaskan cekalan tangan Rangga.

“Apa-apaan lo, Ga?!” bentak Shino.

“Lo yang apa-apaan? Ngapain lo disini hah? Lo apain cewek gue?” seru Rangga dengan nada menantang. Seketika ia tersadar bahwa kata-katanya itu salah. Cewek gue? Aissh.. whatever!

“Cewek lo? Cewek lo? Hahahahaha...” Shino tertawa terbahak-bahak. Ia sampai mengeluarkan airmata karena terlalu over. “Nggak salah? Rima, jelasin ke pecundang itu!”

Rima tersentak. Ia memandang seseorang yang terlihat terluka di hadapannya. Mata Rangga menyorotkan bahwa ia sangat terluka. Merasa sangat terkhianati. “Rangga lo harus inget. Kita.. udah.. putus!” jelas Rima dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya. Rima menelan ludah. Ia menunduk, tak berani menatap mata Rangga.

Buuaakk!!!

Bunyi itu terdengar sangat keras di telinga Rima. Seketika gadis itu mendongak dan melihat wajah Shino yang memar. “RANGGA!! Stop! Kurang ajar lo ya!” Rima berusaha untuk mengehentikan perbuatan bengis Rangga.

“Apa maksudmu ngelarang aku? Toh dia juga bukan siapa-siapa kamu, kan?” Rangga bertanya untuk memastikan.

“Shino itu cowok gue! Paham?”

Rangga menatap lurus ke manik mata Rima. Perkataan Rima tadi sungguh seperti suara guntur yang sangat keras. Sangat menyakitkan telinga dan hatinya. Rangga memandang kosong ke tanah dan saat ia mendongak, ia melihat Rima dan Shino telah pergi menjauhi mereka. “Rima, dia itu cowok brengsek! Rima!” panggil Rangga tanpa beranjak dari tempatnya. Sayang, Rima sama sekali tidak menoleh kearahnya. “Damn!” Rangga beranjak pergi dan memasuki tempat pertandingan basket yang akan dimulai sebentar lagi.

“Hei, Ga. Sini deh. Liat tuh anak-anak main basket. Kamu pasti juga pengen, kan?” tanya Rima lembut.

Rangga mendorong kursi rodanya mendekati jendela kamar. Ya! Dari sana ia melihat beberapa anak kecil bermain basket dengan riang. Tenpa sadar Rangga tersenyum. Ia lalu menatap Rima yang saat itu juga sedang menatap dirinya. Pandangan Rangga beralih pada piala kejuaraan sebulan lalu. Kejuaraan yang ia ikuti bersama teman-teman satu timnya. Kejuaraan yang mungkin akan menjadi yang terakhir baginya.

“Suatu saat kamu bisa main basket lagi kok. Percaya deh sama aku,” ujar Rima sambil berjongkok di hadapan Rangga.

“Aku nggak pernah nyesel kecelakaan waktu itu terjadi, Rim. Aku seneng kalau aku bisa main basket lagi. Tapi aku juga nggak sedih kalau memang aku nggak bisa sembuh seutuhnya. Semua udah diatur oleh Tuhan. Jadi aku tinggal turuti aja apa kehendak-Nya. Makasih ya, Rim selama ini udah jagain aku. Aku ngerepotin ya?”

Rima tertawa pelan. “Ngerepotin banget lagi! Tapi aku seneng kok bisa bantuin kamu. Makanya, karena aku dah capek-capek jaga gini, kamu harus berjuang oke? Janji!” Rima menjulurkan jari kelingking mungilnya ke hadapan Rangga. Rangga pun menyambutnya dengan senyum yang mengembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar