PROMISE TO BELIEVE

^ WELCOME ^

Senin, 23 Agustus 2010

Dunia Impian Vara

Seorang gadis remaja tertegun menatap makam di hadapannya. Perlahan-lahan air matanya mulai menetes. Gadis itu menatap pilu, lalu menaburkan bunga yang dibawanya. Ia juga mencabuti rumput-rumput yang memenuhi makam tersebut. Dari rupanya, makam itu seperti jarang diurus. rumput ilalang tumbuh dimana-mana. Hal itu menambah kesedihan gadis yang kini meraba batu nisan dari makam itu.
"Kak Evan... lo kok tega sih ninggalin gue? Lo tega ninggalin gue diantara orang-orang yang nggak sayang sama gue. Lo kan tau, cuma lo yang bisa bikin gue tenang, tegar. Cuma lo yang ngasih gue kasih sayang secara tulus. Tapi kaalu lo tau, kenapa lo bisa ninnggalin gue?? Kenapa lo nggak bertahan, Kak?" Gadis itu mengusap air matanya. "Lo curang kak! Selama ini lo selalu ngajarin gue gimana caranya tegar, gimana kita harus bertahan, gimana kita harus saling pedli. Tapi lo sendiri nggak ngelakuin itu ke diri lo! Lo sekarang nggak peduli sama gue. Padahal gue butuh banget diri lo. Lo jahat, Kak Evan..." Ia tak kuasa menahan air matanya.
Di tempat itu, ia sendiri. Tidak ada yang tau kalau dia seadng menangis. Tak ada yang tau bahwa selama ini gadis yang dikenal tegar, ternyata justru begitu rapuh. Gadis yang selama ini terlihat cuek terhadap setiap masalah, ternyataselalu memikirkan masalah-masalahnya. "Pokoknya kak. Gue janji bakal secepatnya nyusul elo. Gue bakal dapat kasih sayang lagi dari elo. Lo harus tunggu gue, Kak!"
Gadis itu berlari meninggalkan makam dengan tenang. Hujan perlahan turun dari langit. Membasahi dirinya yang hanya mengenakan seragam sekolah. Rambutnya mulai basah. Tapi ia tak peduli. Ia lalu menemui seorang penjaga makam yang berada di pintu gerbang. "Pak, tolong rawat makam yang itu. Saya nggak mau kalau setiap saya datang ke makam itu belum bersih. Ini untuk bapak." Sang Gadis memberikan amplop berisi uang kepada penjaga makam dan meninggalkan pemakaman itu.
***
Vara manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya. Sesekali ia mencatat apa yang dijelaskan oleh gurunya. Vara. Seorang gadis yang pintar, berasal dari keluarga kaya, namun sayang ia tak pernah mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Maka itu, ia juga dikenal sebagai pribadi yang cuek. Padahal sebenarnya, ia sangat perhatian pada teman-temannya. Yah... Ia sengaja bersikap seperti itu karena ia tak pernah mendapat kasih sayang. Ia selalu berpikir untuk apa menyayangi atau perhatian pada orang lain kalau dirinya sendiri pun tak ada yang memperhatikan.
Suatu hari, ia bertemu dengan seseorang bernama Vira. Vira adalah sosok yang sempurna di matanya. Ia selalu iri pada Vira. Jadi, ia memusuhi Vira selama ini. Saat bertemu, Vara pasti mencari gara-gara dan ia juga sering memberi pelajaran pada Vira.
Vara iri sekali pada Vira. Vira adalah orang yang pintar, baik, punya banyak teman. Satu yang membuatnya sangat iri, ia mempunyai keluarga yang sangat hangat. Keluarganya selalu akur, berkumpul. Mereka tak pernah sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak seperti keluarganya yang entah enyah kemana. Setiap hari ia hanya ditemani suara jangkrik. Kedua orangtuanya tak pernah berkumpul. Mereka berdua selalu pulang larut malam dan tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Saat pulang pun mereka tak pernah mencari Vara. Mereka seperti lupa bahwa ada seseorang di rumah itu yang sangat membutuhkan kasih sayang mereka.
"Vara, kantin yuk!" ajak Ingga, sahabat Vara satu-satunya. Ia memperhatikan Vara dan terkejut saat melihat rambut Vara. "Var?! Kok rambut lo tipis banget? Keliatan tuh botaknya!" Ingga membelai rambut Vara. Ia semakin terkejut saat beberapa helai rambut Vara rontok di genggamannya. "Var... rambut lo rapuh banget! Pantesan jadi tipis gini."
"Iya nih.. Gimana dong? Gue juga bingung kok bisa rontok banyak banget gini..." kata Vara dengan enteng. Seolah itu bukan masalah yang sangat besar.
"Kok lo nyantai gitu? Kalo ada apa-apa gimana? Lo mending priksa deh ke dokter. Gue jadi khawatir..."
Vara memandang Ingga. "Kok lo yang khawatir sih?" Ia lalu beranjak menuju kantin. Ingga menyusul di belakangnya. Tanpa Vara sadari, beberapa anak yang lewat di depannya memandang Vara dengan aneh. Mereka memandang rambut Vara dan berbisik-bisik. Namun, seperti biasa Vara hanya cuek dan memasang wajah datar. Yang cemas justru Ingga. Ingga hanya bisa menyeringai menatap setiap orang yang memerhatikan Vara.
"Var, lo sadar nggak? Semua orang ngeliatin lo!" bisik Ingga.
"So?"
"Pokoknya pulang sekolah nanti lo harus periksa!" tandas Ingga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Senin, 23 Agustus 2010

Dunia Impian Vara

Seorang gadis remaja tertegun menatap makam di hadapannya. Perlahan-lahan air matanya mulai menetes. Gadis itu menatap pilu, lalu menaburkan bunga yang dibawanya. Ia juga mencabuti rumput-rumput yang memenuhi makam tersebut. Dari rupanya, makam itu seperti jarang diurus. rumput ilalang tumbuh dimana-mana. Hal itu menambah kesedihan gadis yang kini meraba batu nisan dari makam itu.
"Kak Evan... lo kok tega sih ninggalin gue? Lo tega ninggalin gue diantara orang-orang yang nggak sayang sama gue. Lo kan tau, cuma lo yang bisa bikin gue tenang, tegar. Cuma lo yang ngasih gue kasih sayang secara tulus. Tapi kaalu lo tau, kenapa lo bisa ninnggalin gue?? Kenapa lo nggak bertahan, Kak?" Gadis itu mengusap air matanya. "Lo curang kak! Selama ini lo selalu ngajarin gue gimana caranya tegar, gimana kita harus bertahan, gimana kita harus saling pedli. Tapi lo sendiri nggak ngelakuin itu ke diri lo! Lo sekarang nggak peduli sama gue. Padahal gue butuh banget diri lo. Lo jahat, Kak Evan..." Ia tak kuasa menahan air matanya.
Di tempat itu, ia sendiri. Tidak ada yang tau kalau dia seadng menangis. Tak ada yang tau bahwa selama ini gadis yang dikenal tegar, ternyata justru begitu rapuh. Gadis yang selama ini terlihat cuek terhadap setiap masalah, ternyataselalu memikirkan masalah-masalahnya. "Pokoknya kak. Gue janji bakal secepatnya nyusul elo. Gue bakal dapat kasih sayang lagi dari elo. Lo harus tunggu gue, Kak!"
Gadis itu berlari meninggalkan makam dengan tenang. Hujan perlahan turun dari langit. Membasahi dirinya yang hanya mengenakan seragam sekolah. Rambutnya mulai basah. Tapi ia tak peduli. Ia lalu menemui seorang penjaga makam yang berada di pintu gerbang. "Pak, tolong rawat makam yang itu. Saya nggak mau kalau setiap saya datang ke makam itu belum bersih. Ini untuk bapak." Sang Gadis memberikan amplop berisi uang kepada penjaga makam dan meninggalkan pemakaman itu.
***
Vara manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya. Sesekali ia mencatat apa yang dijelaskan oleh gurunya. Vara. Seorang gadis yang pintar, berasal dari keluarga kaya, namun sayang ia tak pernah mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Maka itu, ia juga dikenal sebagai pribadi yang cuek. Padahal sebenarnya, ia sangat perhatian pada teman-temannya. Yah... Ia sengaja bersikap seperti itu karena ia tak pernah mendapat kasih sayang. Ia selalu berpikir untuk apa menyayangi atau perhatian pada orang lain kalau dirinya sendiri pun tak ada yang memperhatikan.
Suatu hari, ia bertemu dengan seseorang bernama Vira. Vira adalah sosok yang sempurna di matanya. Ia selalu iri pada Vira. Jadi, ia memusuhi Vira selama ini. Saat bertemu, Vara pasti mencari gara-gara dan ia juga sering memberi pelajaran pada Vira.
Vara iri sekali pada Vira. Vira adalah orang yang pintar, baik, punya banyak teman. Satu yang membuatnya sangat iri, ia mempunyai keluarga yang sangat hangat. Keluarganya selalu akur, berkumpul. Mereka tak pernah sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak seperti keluarganya yang entah enyah kemana. Setiap hari ia hanya ditemani suara jangkrik. Kedua orangtuanya tak pernah berkumpul. Mereka berdua selalu pulang larut malam dan tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Saat pulang pun mereka tak pernah mencari Vara. Mereka seperti lupa bahwa ada seseorang di rumah itu yang sangat membutuhkan kasih sayang mereka.
"Vara, kantin yuk!" ajak Ingga, sahabat Vara satu-satunya. Ia memperhatikan Vara dan terkejut saat melihat rambut Vara. "Var?! Kok rambut lo tipis banget? Keliatan tuh botaknya!" Ingga membelai rambut Vara. Ia semakin terkejut saat beberapa helai rambut Vara rontok di genggamannya. "Var... rambut lo rapuh banget! Pantesan jadi tipis gini."
"Iya nih.. Gimana dong? Gue juga bingung kok bisa rontok banyak banget gini..." kata Vara dengan enteng. Seolah itu bukan masalah yang sangat besar.
"Kok lo nyantai gitu? Kalo ada apa-apa gimana? Lo mending priksa deh ke dokter. Gue jadi khawatir..."
Vara memandang Ingga. "Kok lo yang khawatir sih?" Ia lalu beranjak menuju kantin. Ingga menyusul di belakangnya. Tanpa Vara sadari, beberapa anak yang lewat di depannya memandang Vara dengan aneh. Mereka memandang rambut Vara dan berbisik-bisik. Namun, seperti biasa Vara hanya cuek dan memasang wajah datar. Yang cemas justru Ingga. Ingga hanya bisa menyeringai menatap setiap orang yang memerhatikan Vara.
"Var, lo sadar nggak? Semua orang ngeliatin lo!" bisik Ingga.
"So?"
"Pokoknya pulang sekolah nanti lo harus periksa!" tandas Ingga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar