PROMISE TO BELIEVE

^ WELCOME ^

Jumat, 06 Agustus 2010

Jaga Aja Cinta Lo!



Bita memandang puas pantulan dirinya di cermin. Di sana, seorang cewek polos berambut pendek sebahu dengan poni menghias keningnya, berdiri tegak. Cewek itu tersenyum, lalu menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar. Pandangannya tertuju pada sebuah figura yang di dalamnya terdapat foto close up seorang cewek bersama seorang cowok. Di foto itu, mereka terlihat sangat bahagia."Kok aneh, ya? Emangnya dulu kita deket banget?" gumam Bita. Ia mengusap kaca figura tersebut, kemudian meletakkannya perlahan di samping figura fotonya.
"Eh, Gi.. dulu kita deket banget, ya?" tanya Bita ketika ia hendak menuju kantin bersama Egi, sahabat sekaligus saudaranya.
Egi yang tidak siap dengan pertanyaan itu mematung sejenak. "Engg,. Iya. Kamu nggak inget, ya?" raut wajah Egi yang tadinya cerah kini berubah sedikit murung, namun ia mencoba menutup-nutupinya.Bita manggut-manggut dan tidak menyadari perubahan raut wajah Egi. "Seberapa deket, sih? Aku jadi pengen tau hubungan kita dulu. Kayaknya asyik..!"
"Hem.. Ya begitulah.. Bisa dibilang kayak orang pacaran gitu deh.." Egi memandang wajah Bita dari samping. "Eh, mau pesen apa?" Egi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak terjebak dalam pertanyaan seputar mereka.
"Terserah, deh.." Bita mengulum senyum manja pada Egi.Wajah Egi terlihat panik saat Aldo bercerita panjang lebar tentang apa yang baru saja ia alami. Aldo, sahabat Egi sekaligus pacar Bita bercerita dengan semangat '45. "Gi, kenapa sih nggak lo bongkar aja semuanya? Kenapa harus ditutup-tutupi? Udahlah, itu cuma masa lalu, lagi! Lo mau ngorbanin gue terus? Kalo iya, Andina gimana, dong? Gue sama dia kan bener-bener pacaran! Kasihan tau, Andina!"
"Duh.. plis banget dong, Do! Andina kan sahabat Bita,. Dia pasti ngerti deh. Daripada di bocorin sekarang. Gue takut dia belom bisa nerima semuanya. Gue takut Bita benci sama gue dan nggak mau nerima kenyataan kita emang udah harus pisah. Gue takut.. Lebih baik kayak gini. Kita baik-baik aja, kan?"Aldo melengos. "Iya, tapi gue juga kasihan sama lo. Lo ngorbanin diri lo sendiri, hati lo. Lo ngorbanin itu buat nutupin semua ini. Lo selalu nahan rasa sakit itu sendiri. Bahkan ketika lo harus jawab semua pertanyaan yang Bita kasih ke elo. Tentang hubungan kalian, masa lalu kalian. Lo kubur dalam-dalam perasaan lo itu. Apa itu fair? Apa lo nggak sakit nahan semua ini?""Gi..." panggil Bita lirih. Bita muncul di belakang Egi dengan belelerean air mata. "Apa semua yang kalian bicarain itu bener?" tanya Bita lemah.
"Gi, Do! Sori, tadi Bita nggak..." Andina tiba-tiba muncul dari kejauhan. Ia kaget ketika melihat Bita berada disana sambil terisak dan melihat ekspresi Aldo juga Egi yang tegang. "Jangan-jangan.. Bita tau semua!" batin Andina."Kalian bertiga bohong! Aku benci kalian!" Bita berlari menuju pintu gerbang. Namun Egi mengejarnya dan merengkuhnya dalam pelukan. Bita masih terisak."Aku nggak punya pilihan lain.. Maafin kita, Bita. Kita tau kita salah, tapi mau gimana lagi? Beberapa jam sebelum kecelakaan itu, kamu bener-bener benci sama aku. Aku takut begitu ingatanmu kembali atau kamu tau tentang kita dulu, kamu akan semakin membenci aku. Karena itu, lebih baik aku simpen semua. Lebih baik aku yang ngerasain sakit ketika harus mengingat semua. Ketika kamu nggak menyadari bahwa sampai saat ini kita masih dalam ikatan.. Kita belum putus, Bita.."
Bita berusaha melepas pelukan Egi. Ia menatap tajam mata sendu di depannya. "Oke, kita putus!" setelah itu, Bita berlari tanpa mempedulikan panggilan dari Andina.Bita mencari-cari sesuatu di dalam laci meja belajarnya. Sebuah benda kenangan. Ya, pasti ada. Ia mulai ingat benda itu. Sebuah kalung berleontin hati yang Egi berikan pada Bita. Saat itu, hubungan mereka genap satu tahun. Tiba-tiba, sebuah foto yang terselip terjatuh dengan keadaan tertutup. Ada tulisan di balik foto itu. Bita menitikkan air mata ketika ia membacanya. Kalimat itu berbunyi 'Hari ini genap satu tahun, semoga kita langgeng..!'
Foto tersebut diambil saat ia dan Egi memotong kue perayaan satu tahun. Tiba-tiba kepalanya merasa pusing. Ia perlu adaptasi untuk mengingat semua ini.Seminggu berlalu, Bita telah melupakan masalahnya dengan berlibur ke desa. Kini, ia kembali lagi bersekolah. Ia akan melupakan segalanya. Ia mencoba untuk menerima kenyataan yang Tuhan berikan padanya. Ia mencoba untuk menerima kenyataan bahwa Egi adalah saudaranya. Ya, dengan begitu, mereka memang takkan terpisah. Walau suatu hari nanti, ia akan melihat Egi bersama orang lain. Bita takkan merasa sakit karena semua ini memang yang terbaik bagi dirinya.
"Hai, Egi!" sapa Bita ketika ia berpapasan dengan Egi.
Egi hanya membalas itu dengan anggukan dan senyuman. Setelah Bita menghilang, Egi baru sadar kalau ia harus memberitahu Bita. Egi pun mengejar Bita. "Bita, aku lupa. Nanti sore, Andina ma Aldo mau ngajakin kita makan sama main ke taman. Kalau kamu mau ikut, dateng aja jam lima sore di taman. Kita kumpul di sana.. Gitu aja." Egi pergi dengan hati lega karena ia telah melihat perubahan pada diri Bita. 'Tuhan, terimakasih karena dulu Kau sempat mempersatukan kami.' batin Egi.

Sorenya, Egi, Andina, dan Aldo telah berkumpul di taman. Mereka menanti kedatangan seorang gadis. Tak lama, gadis itu muncul dengan senyum yang mengembang di bibirnya. "Sori.. aku telat. Tadi jalannya macet. Hehehe,.. Yuk! Kita pergi sekarang." ajak Bita.
"Yeeeee.... yang punya acara siapa juga. Kita nih, Ya, kan? Kita foto-foto dulu aja di sini. Langitnya bagus lho!!" ujar Andina yang disambut anggukan dari Aldo-nya.
Akhirnya, mereka foto-foto dan menghabiskan malam itu dengan penuh kebahagiaan.

----------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat, 06 Agustus 2010

Jaga Aja Cinta Lo!



Bita memandang puas pantulan dirinya di cermin. Di sana, seorang cewek polos berambut pendek sebahu dengan poni menghias keningnya, berdiri tegak. Cewek itu tersenyum, lalu menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar. Pandangannya tertuju pada sebuah figura yang di dalamnya terdapat foto close up seorang cewek bersama seorang cowok. Di foto itu, mereka terlihat sangat bahagia."Kok aneh, ya? Emangnya dulu kita deket banget?" gumam Bita. Ia mengusap kaca figura tersebut, kemudian meletakkannya perlahan di samping figura fotonya.
"Eh, Gi.. dulu kita deket banget, ya?" tanya Bita ketika ia hendak menuju kantin bersama Egi, sahabat sekaligus saudaranya.
Egi yang tidak siap dengan pertanyaan itu mematung sejenak. "Engg,. Iya. Kamu nggak inget, ya?" raut wajah Egi yang tadinya cerah kini berubah sedikit murung, namun ia mencoba menutup-nutupinya.Bita manggut-manggut dan tidak menyadari perubahan raut wajah Egi. "Seberapa deket, sih? Aku jadi pengen tau hubungan kita dulu. Kayaknya asyik..!"
"Hem.. Ya begitulah.. Bisa dibilang kayak orang pacaran gitu deh.." Egi memandang wajah Bita dari samping. "Eh, mau pesen apa?" Egi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak terjebak dalam pertanyaan seputar mereka.
"Terserah, deh.." Bita mengulum senyum manja pada Egi.Wajah Egi terlihat panik saat Aldo bercerita panjang lebar tentang apa yang baru saja ia alami. Aldo, sahabat Egi sekaligus pacar Bita bercerita dengan semangat '45. "Gi, kenapa sih nggak lo bongkar aja semuanya? Kenapa harus ditutup-tutupi? Udahlah, itu cuma masa lalu, lagi! Lo mau ngorbanin gue terus? Kalo iya, Andina gimana, dong? Gue sama dia kan bener-bener pacaran! Kasihan tau, Andina!"
"Duh.. plis banget dong, Do! Andina kan sahabat Bita,. Dia pasti ngerti deh. Daripada di bocorin sekarang. Gue takut dia belom bisa nerima semuanya. Gue takut Bita benci sama gue dan nggak mau nerima kenyataan kita emang udah harus pisah. Gue takut.. Lebih baik kayak gini. Kita baik-baik aja, kan?"Aldo melengos. "Iya, tapi gue juga kasihan sama lo. Lo ngorbanin diri lo sendiri, hati lo. Lo ngorbanin itu buat nutupin semua ini. Lo selalu nahan rasa sakit itu sendiri. Bahkan ketika lo harus jawab semua pertanyaan yang Bita kasih ke elo. Tentang hubungan kalian, masa lalu kalian. Lo kubur dalam-dalam perasaan lo itu. Apa itu fair? Apa lo nggak sakit nahan semua ini?""Gi..." panggil Bita lirih. Bita muncul di belakang Egi dengan belelerean air mata. "Apa semua yang kalian bicarain itu bener?" tanya Bita lemah.
"Gi, Do! Sori, tadi Bita nggak..." Andina tiba-tiba muncul dari kejauhan. Ia kaget ketika melihat Bita berada disana sambil terisak dan melihat ekspresi Aldo juga Egi yang tegang. "Jangan-jangan.. Bita tau semua!" batin Andina."Kalian bertiga bohong! Aku benci kalian!" Bita berlari menuju pintu gerbang. Namun Egi mengejarnya dan merengkuhnya dalam pelukan. Bita masih terisak."Aku nggak punya pilihan lain.. Maafin kita, Bita. Kita tau kita salah, tapi mau gimana lagi? Beberapa jam sebelum kecelakaan itu, kamu bener-bener benci sama aku. Aku takut begitu ingatanmu kembali atau kamu tau tentang kita dulu, kamu akan semakin membenci aku. Karena itu, lebih baik aku simpen semua. Lebih baik aku yang ngerasain sakit ketika harus mengingat semua. Ketika kamu nggak menyadari bahwa sampai saat ini kita masih dalam ikatan.. Kita belum putus, Bita.."
Bita berusaha melepas pelukan Egi. Ia menatap tajam mata sendu di depannya. "Oke, kita putus!" setelah itu, Bita berlari tanpa mempedulikan panggilan dari Andina.Bita mencari-cari sesuatu di dalam laci meja belajarnya. Sebuah benda kenangan. Ya, pasti ada. Ia mulai ingat benda itu. Sebuah kalung berleontin hati yang Egi berikan pada Bita. Saat itu, hubungan mereka genap satu tahun. Tiba-tiba, sebuah foto yang terselip terjatuh dengan keadaan tertutup. Ada tulisan di balik foto itu. Bita menitikkan air mata ketika ia membacanya. Kalimat itu berbunyi 'Hari ini genap satu tahun, semoga kita langgeng..!'
Foto tersebut diambil saat ia dan Egi memotong kue perayaan satu tahun. Tiba-tiba kepalanya merasa pusing. Ia perlu adaptasi untuk mengingat semua ini.Seminggu berlalu, Bita telah melupakan masalahnya dengan berlibur ke desa. Kini, ia kembali lagi bersekolah. Ia akan melupakan segalanya. Ia mencoba untuk menerima kenyataan yang Tuhan berikan padanya. Ia mencoba untuk menerima kenyataan bahwa Egi adalah saudaranya. Ya, dengan begitu, mereka memang takkan terpisah. Walau suatu hari nanti, ia akan melihat Egi bersama orang lain. Bita takkan merasa sakit karena semua ini memang yang terbaik bagi dirinya.
"Hai, Egi!" sapa Bita ketika ia berpapasan dengan Egi.
Egi hanya membalas itu dengan anggukan dan senyuman. Setelah Bita menghilang, Egi baru sadar kalau ia harus memberitahu Bita. Egi pun mengejar Bita. "Bita, aku lupa. Nanti sore, Andina ma Aldo mau ngajakin kita makan sama main ke taman. Kalau kamu mau ikut, dateng aja jam lima sore di taman. Kita kumpul di sana.. Gitu aja." Egi pergi dengan hati lega karena ia telah melihat perubahan pada diri Bita. 'Tuhan, terimakasih karena dulu Kau sempat mempersatukan kami.' batin Egi.

Sorenya, Egi, Andina, dan Aldo telah berkumpul di taman. Mereka menanti kedatangan seorang gadis. Tak lama, gadis itu muncul dengan senyum yang mengembang di bibirnya. "Sori.. aku telat. Tadi jalannya macet. Hehehe,.. Yuk! Kita pergi sekarang." ajak Bita.
"Yeeeee.... yang punya acara siapa juga. Kita nih, Ya, kan? Kita foto-foto dulu aja di sini. Langitnya bagus lho!!" ujar Andina yang disambut anggukan dari Aldo-nya.
Akhirnya, mereka foto-foto dan menghabiskan malam itu dengan penuh kebahagiaan.

----------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar